Selasa, 19 Oktober 2010

KEBIJAKSANAAN DIVIDEN


 

1.     Pengertian Dividen

Kebijakan Dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham atau keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan dating. Dengan demikian pertanyaannya seharusnya adalah kapan (artinya, dalam keadaan seperti apa) laba akan dibagikan dan kapan ditahan, dengan tetap memperhatikan tujuan preusan yaitu meningkatkan nilai perusahaan.

Kebijakan dividen berpengaruh terhadap aliran dana, struktur finansial, likuiditas perusahaan dan prilaku investor. Dengan demikian kebijakan dividen merupakan salah satu keputusan penting dalam kaitannya dengan usaha untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Sebagaimana diketahui bahwa nilai perusahaan dipengaruhi oleh keputusan investasi, keputusan pembiayaan, dan kebijakan dividen itu sendiri. Ketiga keputusan tersebut saling berinteraksi satu sama lain, karena keputusan investasi dipengaruhi oleh tersedianya dana dan biaya modal. Biaya modal dan ketersediaan dana dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang ditahan.

Kebijakan dividen dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan seperti likuiditas, prospek pendapatan, pajak, kondisi lingkungan ekonomi, preferensi pemegang saham, dan kesempatan investasi yang ada.

Prosedur pembayaran dividen

Perusahaan mengumumkan tanggal pembayaran dividen dan besarnya dividen per lembar saham. Pemindah bukuan atau pengalihan hak atas saham ditutup pada saat pembayaran dividen. Jika pemindahan hak dilakukan sebelum pembayaran dividen, maka pemegang saham yang baru yang akan menerima pembayaran dividen. Perusahaan mengirimkan cek kepada pemegang saham pada tanggal pembayaran.

Peraturan yang mempengaruhi kebijakan dividen

Dividen harus dibayarkan dari laba ditahan saat ini atau periode yang lalu. Selain itu dividen tidak dapat dibayarkan dari modal saham. Pembayaran dividen tidak dapat dilakukan apabila perusahaan dalam keadaan insolvency.


 

2.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Berkaitan degan peraturan yang mempengaruhi kebijakan dividen, maka dapat diuraikan factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen

  1. Posisi kas atau likwiditas perusahaan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen. Bagi perusahaan yang memiliki laba ditahan yang cukup, tetapi manajemen memutuskan untuk menginvestasikan ke dalam aktiva riil, maka perusahaan tidak dapat membayar dividen dalam bentuk kas.
  2. Kebutuhan pembayaran kembali utang perusahaan juga berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk membayar dividen. Adanya batasan dalam perjanjian pinjaman kepada kreditur, seperti misalnya pembayaran dividen hanya dapat dilakukan setelah laba yang tersedia bagi pemegang saham dikurangi dengan angsuran pinjaman atau apabila modal kerja mencapai tingkat tertentu. Di samping itu persetujuan pemegang saham preferen di mana menuntut hak pembayaran dividen sebelum pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa.
  3. Tingkat ekspansi yang tinggi memerlukan dana yang besar, sehingga laba yang diperoleh lebih baik ditahan. Stabilitas earning memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan payout ratio yang tinggi.
  4. Akses perusahaan di pasar modal juga berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Aksesibilitas perusahaan ini dipengaruhi oleh usia dan skala perusahaan, bagi perusahaan yang sudah established lebih mudah mempertahankan payout ratio yang tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang kecil.
  5. Posisi pemegang saham dalam kelompok pajak juga berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Kepemilikan perusahaan oleh investor yang kecil cenderung untuk memiliki payout yang tinggi. Sedangkan kepemilikan perusahaan oleh pemegang saham yang termasuk dalam kelompok pembayar pajak besar akan lebih menyukai untuk mempertahankan payout yang rendah. Lebih lanjut posisi pembayaran pajak perusahaan berpengaruh pula terhadap kebijakan dividen. Kemungkinan adanya penalti atas kelebihan akumulasi laba ditahan mungkin akan mendorong untuk memilih payout yang lebih tinggi.


 

3.    Dana yang bisa dibagikan sebagai dividen

Dalam perakteknya pembagian dividen dikaitkan dengan laba yang diperoleh oleh perusahaan dan dan tersedia bagi pemegang saham. Laba ini ditunjukkan dalam laboran rugi laba yang disebut sebagai laba setelah pajak (Earning after Taxes)

Kalau kita kembali kepada teori keuangan, maka besarnya dana yan bias dibagikan sebagai diivden (atau diinestasikan kembali) bukanlah sama dengan laba setelah pajak. Dana yang diperoleh dari hasil operasi selama satu periode tersebut adalah sebesar laba setelah pajak ditambah dengan penyusutan. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa kita bisa membagikan sejumlah ini sebagai dividen. Karena kalau seluruh dana tersebut dibagikan sebagai dividen, maka perusahaan tidak akan bisa melakukan pengantian aktiva tetap dimasa yang akan datang. Kalau ini terjadi maka kemampuan perusan untuk menghasilkan laba akan berkurang.

Dalam teori keuangan, jumlah dana yang bisa dibagikan sebagai dividen bisa dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut :


 

Dividen = EAT + Penyusutan – Investasi A. T. – Penambahan M. K.


 

Dimana :

    EAT : Laba setelah pajak

    AT    : Aktiva Tetap

    M K    : Modal Kerja


 

Persamaan terrsebut menunjukkan bahwa dana yang bisa dibagikan sebagai dividen merupakan kelebihan dana yang diperoleh dari operasi preusan (yaitu EAT + Penyusutan) di atas keperluan investasi untuk menghasilkan laba di masa yang akan datang ( investasi pada aktiva tetap dan modal kerja). Hanya saja untuk menyederhanakan analisis sering diasumsikan bahwa investasi pada kativa tetap akan diambil dari penyusutan, dan modal kerja dianggap tidak berubah. Sehingga dengan asumsi seperti itu maka besarnya dividen ditentukan oleh EAT.


 

Maksimum Dividen = EAT


 

Apabila dividen yang dibagikan (Divident Payout Ratio) misalnya hanya 40% dari EAT, maka ini berarti bahwa yang 60% dipergunakan ntuk menambah dana untuk penyusutan untuk investasi pada aktiva tetap dan penambahan modal kerja.


 

4.     Jenis-jenis Pembayaran Dividen

Dengan memperhatikan besarnya dividen yang dibagikan maksimum sebesar laba setelah pajak, maka besarnya dividen akan dipengaruhi oleh ada tidanya kesempatan investasi. Berikut akan diuraikan jenis-jenis alternative pembagian dividen

1. Pembayaran dividen yang stabil

Perusahaan yang menganut kebijakan untuk membayarkan dividen per lembar saham dalam jumlah yang stabil cenderung untuk memiliki payout ratio yang rendah pada saat profit tinggi dan memiliki payout ratio yang tinggi pada saat profit mengalami penurunan. Alasan untuk memberikan dividen yang stabil dengan cara membiarkan payout ratio berfluktuasi adalah agar harga pasar saham lebih tinggi. Hal ini mudah dipahami karena :

  1. Dividen yang berfluktuasi lebih berisiko daripada dividen yang stabil, oleh karena itu tingkat discount rate yang lebih rendah akan diterapkan pada dividen yang stabil sehingga nilai saham lebih tinggi.
  2. Pemegang saham yang mengharapkan pendapatan dari penerimaan dividen akan lebih suka untuk menerima dividen dalam jumlah yang stabil (dividen minimum) dan mengharapkan adanya premium atas saham itu.
  3. Persyaratan listing surat berharga mensyaratkan dividen yang stabil dan tidak terputus.

2. Residual Decision of Dividend

Penentuan besarnya dividen dipengaruhi oleh ada tidaknya kesempatan investasi yang menguntungkan. Sejauh terdapat investasi yang menguntungkan maka dana yang diperoleh dari operasi perusahaan akan digunakan untuk investasi tersebut. Kalau terdapat sisa barulah sisa tersebut dibagikan sebagai dividen. Apabila pendapat ini dianut maka kita akan mengamati pola pembayaran dividen yang sangat erratic. Suatu perusahaan membagikan dividen sangat banyak karena tidak ada investasi yang menguntungkan, pada saat lain tidak membagikan dividen sama sekali karena seluruh dana digunakan untuk investasi

3. Payout ratio yang konstan

Beberapa perusahaan memilih untuk mempertahankan persentase payout atas laba yang konstan. Dengan demikian apabila laba yang diperoleh berfluktuasi, maka dividen yang dibayarkan juga akan berfluktuasi. Kebijakan ini cenderung tidak akan memaksimumkan nilai saham perusahaan.

4.     Pembayaran dividen reguler yang rendah disertai pembayaran ekstra.

Kebijakan yang terakhir merupakan kebijakan yang moderat yaitu merupakan kompromi atas dua kebijakan satu dan tiga yang lebih fleksibel.


 

Contoh kasus kebijakan dividen

1. Perusahaan A sedang merencanakan untuk memperluas sarana produksinya tahun depan dengan investasi Rp 13.000.000,-. Rasio hutang terhadap total assets saat ini adalah 40% dan itu dianggap merupakan struktur modal yang optimum, laba setelah pajak saat ini Rp 6.000.000,-. Jika Perusahaan A berharap untuk mempertahankan 60% dividen payout rasionya, berapa banyak eksternal equity yang diperlukan untuk membiayai ekspansi tersebut?


 


 


 


 


 


 

Jawaban:


 

Laba setelah pajak 

Rp 6.000.000,- 

Dividen payout 

60% 

Dividen     

Rp 3.600.000,- 

Laba yang ditahan

Rp 2.400.000,- 

Capital budget 

Rp 13.000.000,- 

Debt to total assets 

40% 

Total utang 

Rp 5.200.000,- 

Total equity 60% 

Rp 7.800.000,- 

Laba yang ditahan  

Rp 2.400.000,- 

Eksternal equity 

Rp 5.400.000,- 

            

  1. Perusahaan B memperoleh laba setelah pajak sebesar Rp 11.000.000,- tahun yang lalu dan membagikannya dalam bentuk dividen sebesar Rp 3.960.000,-. Laba tersebut telah tumbuh dengan tingkat pertumbuhan sebesar 6% per tahun selama 10 tahun. Pada tahun ini perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 14.000.000,-. Kesempatan investasi yang tersedia sebesar Rp 10.000.000,-. Hitunglah dividen untuk tahun ini di bawah setiap kebijakan berikut ini.
    1. Payout yang konstan?
    2. Pertumbuhan dividen yang stabil?
    3. Residual dividend policy (anggap perusahaan berharap akan mempertahankan debt to total assets ratio 40%)?.


       

    Jawaban:


     

    a.     Payout ratio    = Rp 3.960.000,-/Rp 11.000.000,-

                = 36%

                = 36% (Rp 14.000.000,-) = Rp 5.404.000,-


     

    b.     Pertumbuhan 6%, sehingga dividen yang dibayarkan

        = (1 + 6%)(Rp 14.000.000,-)

    = Rp 4.197.000,-


     


     


     


     


     


     

    c.    

    Investasi

    Rp 10.000.000,-

     

    Persentase equity financing 

    60% 

    Equity financing 

    Rp 6.000.000,-

     

    Laba yang diperoleh  

    Rp 14.000.000,- 

    Dividen yang dibagikan 

    Rp 8.000.000,- 

1 komentar:

Tias Septiani mengatakan...

pertumbuhan dividen yang stabil hasilnya segitu dapat darimana ya mas

Poskan Komentar