Selasa, 19 Oktober 2010

BIAYA MODAL

  1. Biaya Modal Individual
    1. Biaya modal yang berasal dari hutang jangka pendek

      Hutang jangka pendek terdiri dari hutang dagang, hutang wesel dan kredit jangka pendek dari bank.

      1.     Biaya hutang jangka dagang

      Biaya hutang dagang adalah eksplisit. Bila perusahaan kehilangan kesempatan mendapatkan cash discount selama setahun maka biaya eksplisitnya dapat dihitung dengan membandingkan cash discount yang hilang dengan jumlah rata-rata hutang dagang selama setahun.

      Contoh

      Cash discount yang hilang selama setahun sebesar Rp 500.000 dan hutang dagang rata-rata sebesar Rp 5.000.000 maka biaya hutang dagang yang eksplisit sebelum pajak adalah


       


       


       

      Biaya ini adalah "tax deductible expense" karena bunga modal diperhitungkan sebelum terkena beban pajak, sehingga dengan adanya bunga maka keuntungan yang terkena pajak menjadi lebih kecil.

      Biaya penggunaan hutang setelah pajak (after-tax cost of debt) dapat dihitung dengan cara :

      Biaya hutang setelah pajak = biaya hutang sebelum pajak x (1- tingkat pajak)


       

      Misalkan

      Tingkat pajak penghasilan 40% maka biaya hutang setelah pajak adalah :

      Biaya hutang setelah pajak    = 10 % x ( 1-0,4)

                          = 0,1 x 0,6

                          = 0,6 (6%)

      perusahaan yang dikelola dengan baik, umumnya membayar hutang dagang dalam periode discount sehingga tidak memiliki beban eksplisit.


       


       

      2.     Hutang wesel

      Hutang wesel mempunyai bunga yang tetap yang dihitung dari harga nominalnya. Bunga yang dibayar harus dihubungkan dengan jumlah uang yang diterima atau tersedia secara efektif untuk digunakan.

      3.     Kredit jangka pendek

      Biasanya Bank langsung memotong bunga hutang di muka dari jumlah uang yang diberikan sehingga penerima kredit menerima jumlah uang yang lebih kecil dari hutang nominal.


 

Contoh

Misalnya hutang wesel sebesar Rp 1.000.000 dengan bunga 15% per tahun dengan umur satu tahun. Kita hanya menerima uang sebesar Rp 850.000 (Rp 1.000.000-150.000), sehingga tingkat bunga yang sebenarnya sebelum pajak adalah :


 

Bila tingkat pajak sebesar 40 % maka biaya setelah pajak adalah ;

17,65% x (1-0,4) = 10,50%

Prinsip ini juga diterapkan dalam menghitung biaya penggunaan hutang dari kredit jangka pendek yang diberikan oleh bank.


 

Contoh

Misalnya bank memberikan kredit jangka pendek sebesar Rp 1.000.000 dengan bunga 2% per bulan selama 8 bulan dengan syarat bahwa jaminan aktiva diasuransikan selama umur kredit misalnya premi asuransi sebesar Rp 50.000. Jumlah uang yang dibayarkan bank sebesar Rp 1.000.000–bunga selama 8 bulan + premi asuransi yaitu:

Rp 1.000.000-( 160.000-50.000) = Rp 790.000

Beban selama 8 bulan yang sesungguhnya ditanggung adalah Rp 210.000 ( yaitu Rp 160.000+Rp 50.000), sehingga biaya penggunaan hutang sebelum pajak ( before-tax cost of debt) selama 8 bulan adalah :


 

Biaya kredit sebelum pajak per bulan = %

Misalnya pajak 50% maka biaya setelah pajak adalah :


 

3,323% (1-0,5)= 1,6615%


 

b.    Biaya modal hutang jangka panjang

1.    Biaya modal yang berasal dari hutang jangka panjang

Umumnya bentuk hutang jangka panjang perusahaan adalah obligasi, perhitungan biaya obligasi harus memperhitungkan jumlah dana bersih yang diterima dengan pengeluaran kas karena penggunaan dana tersebut. Dalam menghitung biaya hutang jangka panjang dalam bentuk obligasi dapat digunakan cara seperti perhitungan tingkat pendapatan investasi dalam obligasi dengan rumus "shortcut"atau dengan menggunakan tabel present value.

Contoh :

Obligasi dikeluarkan dengan harga nominal per lembar Rp 10.000 dengan umur 10 tahun. Hasil penjualan obligasi bersih yang diterima sebesar Rp 9.700. Bunga atau kupon obligasi per tahunnya 4%. Berapakah besarnya biaya obligasi tersebut ?

Dengan menggunakan rumus shortcut atau atas dasar kira-kira (approximate method)

Ada 4 langkah dalam metode ini yaitu :

  • Mengadakan estimasi jumlah rata-rata dari dana yang tersedia bagi kita selama 10 tahun
  • Menghitung biaya rata-rata tahunan dari penggunaan dana tersebut
  • Menghitung prosentase biaya rata-rata tahunan dari jumlah danarata-rata yang tersedia
  • Menyesuaikan biaya obligasi itu berdasarkan setelah pajak

Contoh :

a. Dana rata-rata yang tersedia yang akan digunakan selama 10 tahun :


 

    

b.    Biaya ekstra sebesar Rp 300 ( yaitu selisih antara dana yang diterima dengan jumlah dana yang harus dibayar setelah 10 tahun). Bila biaya ekstra tersebar merata 10 tahun maka biaya ekstra per tahun adalah Rp 30 ( ) ditambahkan pada bunga yang dibayar setiap tahun.selama 10 tahun adalah sebesar Rp 400 ( yaitu 4% x Rp 10.000)+ Rp 30 ( biaya ekstra) sehingga berjumlah Rp 430

c.    Menghitung prosentase biaya tahunan rata-rata dari jumlah dana rata-rata yang tersedia. Biaya bunga sebelum pajak :


 


 


 

d. Biaya obligasi juga dapat dihitung dengan rumus pendapatan obligasi yaitu


 


 

e.     Langkah terakhir adalah penyesuaian biaya obligasi dengan pajak. Bila tingkat pajak sebesar 40 % maka biaya setelah pajak :


 

4,36% (1-0,4) = 2,62%


 

2. Menggunakan tabel PV atau metode accurate

Metode ini mencari tingkat bunga yang menjadikan nilai sekarang dari pembayaran bunga tahunan sebesar Rp 400 + pembayaran akhir sebesar Rp 10.000 sama dengan nilai sekarang dari penerimaan sebesar Rp 9.700 persamaannya adalah :


 

Gunakan tingkat bunga 4% dan 6 % untuk interpolasi maka :

Tingkat bunga 4%

Biaya bunga tahunan selama 10 tahun (Rp 400X 8,11)         Rp 3.244

Pembayaran pokok pada akhit tahun ke 10 (Rp 10.000x 0,676)     Rp 6.760

                                     Rp 10.004

Tingkat bunga 6 %

Biaya bunga tahunan selama 10 tahun (Rp 400X7,360)         Rp 2.944

Pembayaran pokok pada akhit tahun ke 10 (Rp 10.000x 0,558) Rp 5.580

                                     Rp 8.524


Selisih bungaSelisih PVSelisih PV outflows dengan inflows4 %Rp 10.004Rp 10.0046%Rp 8.524Rp 9700selisih2%Rp 1.480Rp 304


r = 4% + 0,4% = 4,4%
Biaya obligasi sebelum pajak 4,4%
Biaya obligasi setelah pajak 4,4% (1-0,4) = 2,64%

c.    Biaya modal yang berasal dari Saham Preferen
Saham preferen memiliki sifat antara hutang dengan saham biasa, bersifat hutang karena mengandung kewajiban tetap untuk membayar dividen preferen dan dalam likuidasi pemegang saham preferen memiliki hak mendahului dibanding saham biasa. Namun tidak seperti hutang kegagalanmembayar dividen preferen tidak mengakibatkan pembubaran perusahaan. Risiko saham preferen lebih kecil dari hutang tapi lebih besar dari saham biasa
Biaya penggunaan dana yang berasal dari saham preferen dapat dihitung dengan membagi dividen perlembar saham preferen (Dp) dengan harga bersih penjualan saham preferen (Pn)
Biaya saham preferen =
Contoh :
Misalnya perusahaan mengeluarkansaham preferen baru dengan nilkai nominal Rp 10.000 per lembar dengan dividen sebesar Rp 600 . Hawsil penjualan bersih yang diterima dari saham preferen tersebut sebesar Rp 9.000
Biaya saham preferen =
Biaya saham preferen sudah atas setelah pajak sehingga tidak perlu disesuaikan dengan pajak

Biaya modal yang berasal dari laba yang ditahan
 

Penggunaan laba ditahan juga memiliki biaya, biaya penggunaan dana yang berasal dari laba yang ditahan adalah sebesar tingkat pendapatan investasi dalam saham yang diharapkan diterima oleh para investor atau biayanya sama dengan biaya penggunaan dana yang berasal dari saham biasa

Contoh:

Misalnya perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 400 per lembar saham dan dibayarkan sebagai dividen Rp 200. Hasil netto penjualan saham sebesar Rp 4.000 per lembarnya. Keuntungan, dividen dan harga saham mempunyai tingkat pertumbuhan sebesar 5 % setahun dan tingkat pertumbuhan diharapkan berlangsung terus. Tingkat pendapatan investasi yang diharapka dalam saham sebesar :


 


 

Karena besarnya biaya laba ditahan adalah sebesar tingkat pendapatan investasi saham maka dalam contoh diatas biaya labaditahan adalah sebesar 10 % sama seperti biaya saham preferen biaya laba ditahan inipun atas dasar setelah pajak.


 

  1. Biaya modal yang berasal dari emisi saham biasa baru

    Biaya saham biasa baru adalahlebih tinggi dari biaya penggunaan dana yang berasal dari laba ditahan karena emisi saham baru dibebani biaya emisi. Biaya saham biasa baru dapatdihitung dengan cara :


     


     

    Contoh:

    Suatu perusahaan mengadakan emisi saham biasa baru dengan harga jual per lembar saham Rp 4.000. Biaya emisi per lembar sebesar Rp 400 sehinggahasil penjualan netto yang diterima sebesar Rp 3.600 per lembarnya. Rate of return atau tingkat pendapatan yang diharapkan dari investasi saham adalah sebesar 10 %.

    Dari contoh tersebut biaya emisis adalah sebesar :


     


     

    Berdasarkan rumus di atas maka besarnya " cost of new common stock" dapat dihitung sebagai berikut:

    Biaya saham baru

    Seperti biaya saham preferen maka biaya saham biasa baru sudah atas dasar setelah pajak sehingga tidak perlu disesuaikan dengan pajak.


 

  1. Biaya penggunaan Modal secara Keseluruhan

    Tingkat biaya modal yang harus dihitung oleh perusahaan adalah tingkat biaya modal perusahaan secara keseluruhan, karena masing-masing biaya modal berbeda maka untuk menetapkan biaya modal secara keseluruhan perlu menghitung "weighted average" dari berbagai sumber . Penertapan " weight" atau bobot dapat berdasarkan :

    1. Jumlah rupiah dari masing-masing komponen struktur modal
    2. Proporsi modal dalam struktur modal dinyatakan dalam prosentase

    Dengan mengalikan masing-masing komponen modal dengan biaya masing-masing komponen modal dapatlah dihitung besarnya biaya modal rata-rata tertimbang (weighted average cost of capital)


     

    Contoh :

    Suatu perusahaan memiliki struktur modal sebagai berikut:

    Hutang jangka panjang         Rp 60 juta

    Saham preferen            Rp 10 juta

    Modal sendiri            Rp 130 juta

    Jumlah                 Rp 200 juta

    Biaya penggunaan dana dari masing-masing sumber tersebut adalah :

    Hutang         = 6% (sebelum pajak)

    Saham preferen    = 7%

    Modal sendiri    = 10%

    Pajak         = 50%

    Langkah pertama adalah menyesuaikan pajak dengan biaya hutang yaitu :

    6% (1-0,5) = 3%. Perhitungan Weighted average cost of capital dapat dihitung sebagi berikut :

    1. Dengan menggunakan jumlah modal rupiah untuk menetapkan "Weight"

      Perhitungan biaya modal

      (dalam ribuan rupiah)

      Komponen modal

      (1) 

      Jumlah modal

      (2) 

      Biaya masing-masing

      (3) 

      Jumlah biaya komponen

      (3x4)  

      Hutang jk panjang Saham preferen

      Modal sendiri         

      Rp 60 000

      Rp 10 000

      Rp 130 000

      Rp 200 000 

      3%

      7%

      10% 

      Rp 1.800

      Rp 700

      Rp 13.000

      Rp 15.500 

      Weighted Average Cost of Capital =

    2. Dengan menggunkan proporsi modal untuk menetapkan "Weight"

      Perhitungan biaya modal

      (dalam ribuan rupiah)

      Komponen modal

      (1) 

      Jumlah modal

      (2) 

      Biaya masing-masing

      (3) 

      Jumlah biaya komponen

      (3x4)  

      Hutang jk panjang Saham preferen

      Modal sendiri         

      30%

      5%

      65%

      100% 

      3%

      7%

      10% 

      0,0090

      0,0035

      0,0650

      0,0775 


       

    Weighted Average Cost of Capital = 7,75%


     

    Biaya modal rata-rata tertimbang akan berubah bila struktur modal berubah. Biaya modal rata-rata tertimbang akan tidak berubah meskipun ada tambahan modal yang digunakan bila perimbangan modal sama dan biaya modal juga tetap.Tetapi bila tambahan modal cukup besar dan harus mengadakan emisi saham baru maka akan mengakibatkan kenaikan "marginal cost of capital" karena biaya saham lebih besar daripada biaya laba ditahan.


 

Contoh:

Perusahaan ABC memiliki neraca bagian pasiva pada 31 Desember 2000 sebagai berikut :

Hutang dagang         Rp 200.000

Hutang wesel         Rp 200.000

Hutang lancar lainnya    Rp 60.000

                Rp 460.000

Hutang jangka panjang    Rp 320.000    22%

Saham preferen         Rp 14.000    15%

Saham biasa        Rp1.120.000     77%

                Rp1.454.000    100%

Jumlah hutang dan modal Rp1.914.000


 

Biaya penggunaan dana dari masing-masing komponen tersebut adalah

Hutang             = 6% (sebelum pajak)

Saham preferen        = 6%

Modal sendiri        = 10%

Pajak             = 50%

Biaya hutang setelah pajak = 6% (1-0,5) =3%

Perhitungan biaya modal rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut :


 

Perhitungan biaya modal

(dalam ribuan rupiah)

Komponen modal

(1) 

Jumlah modal

(2) 

Biaya masing-masing

(3) 

Jumlah biaya komponen

(3x4)  

Hutang jk panjang Saham preferen

Modal sendiri         

22%

1%

77%

100% 

3%

6%

10% 

0,0066

0,0006

0,0770

0,0842


 

Weighted Average Cost of Capital = 8,42%

Dalam perhitungan biaya modal keseluruhan hutang jangka pendek tidak dimasukan karena perhitungan biayamodal rata-rata tertimbang digunakan terutama untuk pengambilan keputusan mengenai investasi jangka panjang.

Misalnya tahun 2001 keuntungan netto perusahaan setelah pajak adalah Rp 600.000 dan dibayarkan sebagai dividen sebesar Rp 200.000 dan ditahan sebesar Rp 400.000

Untuk mempertahankan biaya modal keseluruhan sebesar 8,42% perusahaan harus menjaga agar tambahan dana sebesar Rp 400.000 tetap merupakan bagian sebesar 77% dari keseluruhan modal. Jika laba ditahan sebesar Rp 400.000 dan merupakan bagian sebesar 77% dari keseluruhan modal maka besarnya dana baru keseluruhasn yang diperlukan adalah sebesar :


 

dibulatkan menjadi Rp 519.000

sehingga tambahan modal baru yntuk mempertahankan biaya modal keseluruhan agar tetap 8,42 % terdiri dari :

Hutang (22%)            = Rp 114.000

Saham preferen (1%)        = Rp 5.000

Modal sendiri (77%)        = Rp 400.000

                     Rp 519.000    

Hal ini dibuktikan dengan perhitungan sebagai berikut:


 

    Perhitungan biaya modal(dalam ribuan rupiah)

Komponen modal

(1) 

Jumlah modal

(2) 

Biaya masing-masing

(3) 

Jumlah biaya komponen

(3x4)  

Hutang jk panjang Saham preferen

Modal sendiri         

Rp 114.000

Rp 5.000

Rp 400.000

Rp 519.000 

3%

6%

10% 

Rp 3.420

Rp 300

Rp 40.000

43.720

Weighted Average Cost of Capital =

Dari perhitungan di atas maka tambahan dana maksimal untuk mempertahankan biaya modal rata-rata tertimbang adalah sebesar Rp 519.000 dengan laba ditahan sebesar Rp14.000 , saham preferen sebesar Rp 5.000 dan hutang jangka panjang sebesar Rp 400.000. Bila kebutuhan dana lebih besar dari 519.000 maka biaya modal akan meningkat menjadi lebih besar dari 8,42% karena perusahaan terpaksa mengeluarkan saham biasa baru. Yang dibebani biaya emisi, jika perusahaan menambah hutang janghka panjang maka solvabilitas perusahaan akan turun.


 

Contoh :

Misalnya perusahaan membutuhkan tambahan dana lagi sebesar Rp 100.000 untuk mempertahnakan struktur modal optimum maka kebutuhan tersebut harus dipenuhi dengan modal sendiri Rp 77.000 (77%), saham preferen Rp 1000(1%) dan hutang jangka panjang sebesar Rp 22.000 (22%)

Biaya saham preferen 6%, biaya hutang 3% dan biaya saham biasa baru dihitung dengan misalnya biaya emisi 10 % dan biaya saham biasa adalah 10% sehingga biaya saham biasa baru adalah :


 

Berdasarkan biaya saham biasa baru maka biaya modal rata-rata tertimbang adalah :

Perhitungan biaya modal

(dalam ribuan rupiah)


 

Komponen modal

(1) 

Jumlah modal

(2) 

Biaya masing-masing

(3) 

Jumlah biaya komponen

(3x4)  

Hutang jk panjang Saham preferen

Modal sendiri         

Rp 22.000

Rp 1.000

Rp 77.000

Rp 100.000 

3%

6%

11,1% 

Rp 660

Rp 60

Rp 8.547

Rp 9.267

Weighted Average Cost of Capital =


 


 

Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa:

Selama kebutuhan tambahan dana tidak melampaui Rp 519.000 dan pemenuhannya tetap dipertahankan atas dasar pertimbangan 77:1:22 yaitu laba ditahan, saham preferen, dan hutang maka biaya modal keseluruhannya akan dapat dipertahankan sebesar 8,42%.

Saat kebutuhan tambahan dana melebihi Rp 519.000 maka biaya modal rata-rata tertimbang akan meningkat menjadi 9,3%

Biaya penggunaan dana yang berasal dari depresiasi

Kita telah membicarakan biaya penggunaan dana yang berasal dari utang, saham preferen, laba yang ditahan dan saham biasa baru. Bagaimana halnya dengan depresiasi?

Sebagaimana kita ketahui depresiasipun merupakan salah satu sumber dana. Kalau perusahaan mau menggunakan dana yang berasal dari depresiasi apakah tanpa biaya? Mengiangat bahwa dana yang berasal dari depresiasi itu dapat ditanamkan kembali untuk menghasilkan "rate of return", maka perosahaan harus menentukan apakah dana tersebut akan ditanamkan dalam perusahaan atau dibagikan kepada pemberi dana.

Keputusan tersebut adalah tergantung kepada persoalan apakah perusahaan akan dapat menginvestasikan kembali dana tersebut dalam perusahaan dengan menghasilkan "rate of return" yang lebih besar dari biayanya atau tidak.

Besarnya biaya penggunaan dana yang berasal dari depresiasi (cost of depresiciation) adalah sama besarnya dengan biaya modal rata-rata sebelum menggunakan dana yang bersumber dari emisi saham baru.

Oleh karena biaya penggunaan dana yang berasal dari depresiasi ini sama besarnya dengan biaya modal rata-rata, maka biaya dana depresiasi itu tidak diikutkan dalam perhitungan biaya modal rata-rata.

Perusahaan akan menggunakan dana yang berasal dari depresiasi itu hanya kalau penggunaan dana tersebut akan menghasilkan "rate of return" lebih besar daripada biaya modal rata-ratanya. Penggunaan dana yang berasal dari depresiasi akan mempunyai pengaruh memperbesar batas jumlah meksimal kebutuhan tambahan dana yang akan dapat mempertahankan biaya modal rata-rata sebelumnya. Kalau contoh 15.10. misalkan perusahaan mempunyai dana yang berasal dari depresiasi sebesar Rp.40.000,00 maka batas jumlah maksimum tambahan dana yang akan dapat mempertahankan biaya modal rata-rata sebesar 8,42 % naik dari Rp.519.000.00 menjadi Rp559.000,00 (yaitu Rp519.000,00 +Rp40.000,00), sehingga kebutuhan dana di atas Rp559.000,00 baru menaikkan "marginal cost of capital"-nya.

0 komentar:

Poskan Komentar