Senin, 18 Oktober 2010

AKUNTANSI INTERNASIONAL POLA, BUDAYA DAN PERKEMBANGANNYA


 
    Meskipun terdapat perhatian yang mendalam mengenai banyaknya pengaruh faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan akuntansi secara global, para ahli juga percaya bahwa terdapat perbedaan pola secara sistematis mengenai perilaku akuntansi di beberapa negara. Untuk mengetahui apakah terdapat keseragaman atau perbedaan yang sistematis di dalam sistem akuntansi yang mungkin dapat mengelompokkan beberapa negara menjadi satu, maka diperlukannya suatu pengklasifikasian yang memadai.
    Perbedaan pola perilaku akuntansi bisa diidentifikasi dalam penilaian yang dihasilkan dari beberapa tahun perkembangan terhadap faktor-faktor seperti nilai-nilai budaya, sistem hukum, orientasi politik, dan perkembangan ekonomi. Tantangan kita saat ini adalah untuk menyesuaikan diri dari budaya yang lalu dengan desakan global akan transparansi dan kredibilitas akuntansi untuk memfasilitasi arus modal efisien ke pasar keuangan. Untuk melakukan ini, diperlukannya pengakuan bahwa tradisi dan budaya membentuk pemikiran akuntansi di sebuah negara dan perubahan tersebut dapat diperoleh ketika kita mengetahui dan memahami budaya tersebut.

 
Fungsi Klasifikasi Internasional
    Proses klasifikasi akan membantu kita untuk menjelaskan dan membandingkan sistem akuntansi internasional dengan cara yang baik dalam pemahaman kita mengenai realita yang kompleks tentang praktek akuntansi. Rencana klasifikasi akan membantu kita dalam memahami:
  1. Dapat membantu mengetahui sejauh mana suatu sistem mempunyai kesamaan dan perbedaan
  2. Bentuk-bentuk perkembangan sistem akuntansi suatu negara dibandingkan dengan yang lain serta kemungkinannya untuk berubah
  3. Alasan mengapa suatu sistem mempunyai pengaruh dominan dibandingkan dengan yang lainnya.
  4. Dapat membantu pengambilan keputusan untuk menilai prospek dan problem dalam masalah harmonisasi internasional.
    Klasifikasi juga akan membantu pembuat keputusan menilai prospek dan masalah keselarasan internasional. Mereka kemudian akan lebih mampu memprediksi permasalahan yang dapat timbul di tingkat nasional dan juga dapat mengidentifikasi solusi yang memadai karena memiliki pengetahuan tentang beberapa negara yang memiliki pola perkembangan yang mirip.

 
Pengklasifikasian Akuntansi dan Sistem Pelaporan
    Penelitian mengenai pengklasifikasian sistem akuntansi memiliki dua bentuk utama yaitu pendekatan deductive atau judgmental dan pendekatan inductive atau empirict
  1. Pendekatan deductive (The Deductive Approach)
Pada pendekatan deductive dapat mengidentifikasikan faktor lingkungan yang relevan dan mengkaitkan itu dengan praktek akuntansi nasional, pengelompokan internasional atau pola perkembangan yang diajukan.
        Analisa lingkungan yang dilakukan oleh Mueller dipublikasikan dalam bukunya international Accounting (1967) mengidentifikasi empat pendekatan yang berbeda dalam perkembangan akuntansi, yaitu :

 
  1. Pola ekonomi makro (Macroeconomic Pattern)
    Pada pendekatan ini dapat dilihat bahwa ternyata akuntansi dalam bisnis sangat berhubungan erat dengan kebijakan perekonomian nasional. Tujuan perusahaan biasanya mengikuti kebjakan ekonomi nasional. Beberapa negara yang memakai pendekatan ini adalah Swedia, Prancis dan Jerman

 
  1. Pola ekonomi mikro (Microeconomic Pattern)
    Dalam pendekatan ini akuntansi dipandang sebagai cabang dari ekonomi bisnis dan konsep akuntansi diperoleh dari analisa ekonomi dan berhubungan dengan pemeliharaan dalam modal yang diinvestasikan ke dalam perusahaan atau dengan kata lain konsep akuntansi merupakan derivasi dari analisa ekonomi. Konsep utamanya adalah bagaimana mempertahankan investasi modal dalam sebuah entitas bisnis.

     
  2. Pola Disiplin Independen (Independent Discilpine Approach)
    Dalam pendekatan ini akuntansi dipandang sebagai fungsi jasa dan merupakan bagian dari praktek bisnis. Akuntansi diasumsikan dapat mengembangkan kerangka konseptualnya sendiri yang didasarkan pada pengalaman praktek bisnis yang sukses. Negara Amerika dan Inggris menganut pendekatan ini.

     
  3. Pola keseragaman akuntansi (Uniform Accounting Approach)
    Dalam pendekatan ini akuntansi dipandang sebagai alat yang efisien untuk melaksanakan pekerjaan administrasi dan kontrol. Dalam hal ini, akuntansi juga digunakan untuk mempermudah penggunaan dan menyeragamkan baik pengukuran, pengungkapan dan penyajian serta sebagai kontrol untuk semua tipe bisnis dan pemakai termasuk manajer, pemerintah dan otorisasi perpajakan.
Selain itu klasifikasi yang dilakukan oleh G.G Mueller yang dimuat dalam The International Journal of Acounting (Spring 1968) yang menggunakan penilaian ekonomi, kompleksitas bisnis, situasi politik serta sistem hukum, membagi negara-negara ke dalam 10 kelompok berdasarkan sistem akuntansi, yaitu :
  1. Amerika Serikat / Kanada / Belanda
  2. Negara-negara persemakmuran Inggris
  3. Jerman / Jepang
  1. Daratan Eropa (tidak termasuk Jerman Barat, Belanda dan Skandinavia)
    1. Skandinavia
    2. Israel / Meksiko
    3. Amerika Selatan
    4. Negara berkembang
    5. Afrika (tidak termasuk Afrika Selatan)
    6. Negara-negara komunis

 
  1. Pendekatan Induktif (The Inductive Approach)
Dalam pendekatan inductive praktek akuntansi individual dianalisa, pola perkembangan atau pengkelompokan diidentifikasi, dan di akhir, penjelasan dibuat dari sudut pandang ekonomi, sosial, politik, dan faktor-faktor budaya.
Pendekatan Inductive yang digunakan untuk mengidentifikasi pola akuntansi dimulai dengan menganalisa setiap praktek akuntansi. Sebuah penelitian statistik tentang prakek akuntansi internasional yang dilakukan oleh Nair dan Frank ( Juli 1980) secara empiris membedakan antara praktek pengukuran dan pengungkapan karena keduanya dianggap memiliki pola perkembangan yang berbeda. Penelitian yang menggunakan data Price Waterhouse (1973) tersebut menunjukkan bahwa terdapat empat pengelompokkan karakteristik praktek pengukuran yaitu yang mengikuti model dari: British Commonwealth, Latin American, Continental European, dan United States. Namun masalah yang muncul dari tipe riset seperti ini adalah kurangnya data yang relevan dan yang dapat diandalkan untuk investigasi. Dan juga, dalam pengklasifikasian seperti ini, penelitian tidak terlalu memperhatikan pengaruh budaya sebagai suatu variabel yang mendasar sebagai faktor pengaruh perbedaan sistem akuntansi internasional.
Nair dan Frank dalam The Accounting Review (Juli 1980) membagi negara-negara ke dalam 5 kelompok besar berdasarkan perbedaan dalam praktek pengungkapan dan penyajian, yaitu :
  1. Model Persemakmuran Inggris
  2. Model Amerika Serikat
  3. Model Eropa Utara dan Tengah
  4. Model Amerika Serikat
  5. Chili
Selain itu juga ada pendapat dari Nobes dalam Journal of Business Finance and Accounting (Spring 1983) mengidentifikasi faktor-faktor yang membedakan sistem akuntansi yaitu :
  1. Tipe pemakai laporan keuangan yang dipublikasikan
  2. Tingkat kepastian hukum
  3. Peraturan pajak dalam pengukuran
  4. Tingkat konservatisme
  5. Tingkat keketatan penerapan dalam historical cost
  6. Penyesuaian Replacement Cost
  7. Praktek konsolidasi
  8. Kemampuan untuk memperoleh provisi
  9. Keseragaman antarperusahaan dalam penerapan peraturan

 
Pengaruh Budaya dalam Sistem Akuntansi
    Kultur dan akar sejarah suatu negara merupakan langkah awal untuk mengenali faktor-faktor yang berpengaruh terhadap akuntansi. Kultur merupakan elemen penting yang harus dipertimbangkan untuk mengetahui bagaimana sebuah sistem sosial berubah karena "pengaruh kultur", yaitu :
  1. Norma dan nilai suatu sistem
  2. Perilaku kelompok dalam interaksinya di dalam dan di luar sistem
Dalam akuntansi, pengaruh penting budaya dan latar belakang historis mulai dipertimbangkan. Harrison dan McKinnon mengajukan ide kerangka metodelogi yang mengunakan budaya untuk menganalisa perubahan di peraturan pelaporan keuangan perusahaan di tingkat nasional. Budaya dipertimbangkan sebagai bagian yang penting dalam kerangka untuk memahami bagaimana sistem sosial berubah karena budaya mempengaruhi norma dan nilai dan perilaku grup di dalam sistem tersebut.
    Gray menyatakan bahwa budaya atau nilai sosial, di tingkat nasional bisa diprediksi dapat menembus sub-budaya organisasi dan pekerjaan, meskipun dengan tingkat integrasi yang berbeda. Sistem akuntansi dan praktek bisa mempengaruhi dan menguatkan nilai sosial.

 
Struktur Elemen Budaya yang mempengaruhi Bisnis
    Analisa statistik yang dikemukakan oleh Hofstede (1984) meneliti elemen-elemen struktural dari budaya yang mempengaruhi kuat prilaku dalam situasi organisasi dan institusi, yaitu :
  1. Individualistik versus Kolektivitas
    Individualisme merupakan kecenderungan fungsi sosial yang relatif bebas dan individual berarti hanya mengurus diri sendiri dan keluarganya. Kebaikannya, kolektivisme adalah kecenderungan fungsi – fungsi sosial yang relatif ketat dimana masing individu mengidentifikasi diri sebagai kelompok dengan loyalitas yang tidak perlu dipernyatakan. Masalah utama dimensi iniadalah tingkat interdependensi individu dalam sebuah masyarakat.
  2. Kesenjangan Kekuasaan Besar versus Kecil
    Power distance (kesenjangan kekuasaan) adalah sejauh mana anggota masyarakat menerima kekuasaan dalam institusi dan organisasi didistribusikan tidak merata. Masyarakat dalam Small Power Distance membutuhkan kesamaan kekuasaan dan justifikasi untuk ketidaksetaraan kekuasaan. Masyarakat di Large Power Distance menerima perintah hirarki dimana tiap-tiap orang mempunyai tempat tanpa perlu justifikasi lagi. Masalah utama di dimensi ini bagaimana sebuah masyarakat menangani ketidaksetaraan diantara orang-orang jika memang terjadi.
  3. Menghindari Ketidakpastian Kuat versus Lemah
    Ketidakpastian adalah tingkat dimana anggotra masyarakat merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian dan keragu-raguan ketidalpastian kuat berusaha mepertahankan suatu bentuk masyarakat yang begitu besar kepercayaannya dan kurang toleran terhadap orang atau ide-ide alternatif. Kebalikanya untuk ketidakpastian lemah. Tema utama pada dimensi ini adalah bagaimana reaksi sebuah masyarakat tehadap fakta bahwa waktu hanya berjalan satu arah dan maa depan tidak diketahui serta apakah akan mencoba untuk mengontrol masa depan atau membiarkanya
  4. Maskulin versus Feminim
    Maskulin cenderung pada suatu masyarakat yang memberi parameter pada keluarga, heroisme dan sukses-sukse material. Sebaliknya, femenisme cenderung pada hubungan personal, toleran pada kelemahan dan kualitas hidup. Tema utama pada dimensi ini adalah bagaimana masyarakat memberikan pera-peran sosial berhubungan dengan masalah gender
Penelitian yang dilakukan oleh Hofstede juga menunjukkan bagaimana negara-negara bisa dikelompokkan menjadi area budaya, berdasarkan skor terhadap 4 nilai dimensi, menggunakan analisa cluster dan mempertimbangkan faktor geografis dan historis.

 
Nilai Akuntansi
    Gray (1988) mengidentifikasikan 4 nilai akuntansi untuk profesi akuntan dan praktek akuntansi:
  1. Profesionalisme versus peraturan perundang-undangan
    Nilai ini mencerminkan tentang pilihan untuk menggunakan pendapat seorang profesional dan pemeliharaan kode-etik profesional sendiri daripada menggunakan pertimbangan hukum dan kontrol perundang-undangan.
  2. Keseragaman versus fleksibilitas
    Nilai ini mencerminkan tentang pemilihan untuk menggunakan keseragaman praktek akuntansi antara perusahaan dan menggunakannya secara konsisten dari waktu-ke-waktu, daripada bersifat fleksibel untuk menyesuaikan dengan kondisi perusahaan masing-masing.
  3. Konservatisme versus optimisme
    nilai ini mencerminkan tentang pemilihan untuk selalu berhati-hati dan konservatif dalam pengukuran sehingga dapat meminimalisir resiko di masa datang, ketimbang bersikap optimis dan berani menghadapi resiko yang besar.
  4. Kerahasiaan versus transparansi
    Nilai ini mencerminkan tentang pemilihan untuk tetap merahasiakan informasi dan hanya mengungkapkan informasi bisnis kepada orang-orang tertentu yang sangat dekat dan berkaitan dengan pihak manajemen dan keuangan, daripada bersifat terbuka, transparan dan menggunakan pendekatan akuntansi publik.

 
Nilai Akuntansi, kultur dan Klasifikasi Internasional
    Setelah mengkaitkan nilai sosial pada nilai akuntansi internasional, seperti perkataan Gray, ternyata memungkinkan untuk membedakan antara kekuasaan sistem akuntansi, yaitu sejauh mana sistem tersebut dipengaruhi oleh kontrol perundang-undangan atau profesionalisme, dengan pengukuran dan pengungkapan karakteristik sistem akuntansi. Dengan cara ini, nilai akuntansi dapat dihubungkan dengan karakteristik sistem akuntansi.

 
Tekanan Internasional untuk Perubahan Akuntansi
    Faktor – faktor tekanan internasional yang mempengaruhi perubahan akuntansi adalah interpendensi ekonomi dan politik antarnegara, penanaman modal asing langsung, perubahan strategi perusahaan multinasional, dampak teknologi baru, pertumbuhan yang cepat dari pasar uang internasional, ekspansi bisnis jasa, dan berbagai kegiatan organisasi internasional. Sebuah model yang dibuat oleh Gray (1988) untuk meneliti proses perubahan akuntansi. Diagram dalam model tersebut mengidentifikasikan beberapa faktor penting mengenai tekanan internasional yang mempengaruhi perubahan akuntansi seperti:
  • Perkembangan ekonomi dan politik internasional
  • Kecenderungan baru dalam Foreign Direct Investment
  • Perubahan dalam strategi perusahaan Multinasional
  • Pengaruh teknologi baru
  • Perkembangan pasar keuangan internasional
  • Bisnis ekspansi
  • Aktivitas organisasi regulator internasional
Demikian dulu  pembahasan tentang akuntansi internasional pola, budaya, dan perkembangannya.




selanjutnya akan dibahas tentang akuntansi internasional terhadap perubahan harga




0 komentar:

Poskan Komentar