Rabu, 10 November 2010

PERUSAHAAN PERSEKUTUAN: AGEN, KANTOR PUSAT-CABANG

  1. AGEN PENJUALAN DAN KANTOR CABANG

Kegiatan agen ialah memamerkan barang dagangan dan menangani pesanan pelanggan, mereka tidak mempunyai persediaan untk memenuhi pesanan pelanggan ataupun untuk menangani kredit pelanggan. Biasanya pencatatan akuntansi yang dibutuhkan untuk kegiatan agen ini hanya penerimaan dan pengeluaran kas, yang diperlakukan sama seperti sistem kas kecil (petty cash). Sebaliknya, kantor cabang memiliki persediaan, melakukan penjualan kepada pelanggan, menangani kredit pelanggan, menagih piutang, mencatat biaya yang terjadi, dan kegiatan-kegiatan lain yang dilakukan suatu perusahaan.

Kegiatan kantor cabang yang besar kebanyakan merupakan hasil dari penggabungan usaha, di mana perusahaan yang survive membuka kantor cabang untuk diperbantukan dalam operasi perusahaan gabungan yang telah dibubarkan. Dalam hal ini system informasi yang ada bisa dikonversikan dengan sedikit penyesuaian menjadi sistem akuntansi kantor pusat dan cabang. Metode penggabungan sistem akuntansi ini banyak membawa penghematan karena terhindar dari perubahan besar pada sistem akuntansi yang ada dan gangguan pada operasi usaha. Metode ini juga memudahkan untuk menutup kantor cabang jika diketahui tidak menguntungkan. Sistem akuntansi untuk perusahaan yang letaknya berjauhan apakah itu agen atau kantor cabang, harus dirancang sedemikian rupa sehingga informasi yang diperluka bias didapat dengan biaya seekonomis mungkin.


 

  1. PEMBUKUAN AGEN PENJUALAN

Agen tidak memerlukan system akuntansi yang lengkap untuk mencatat kegiatan-kegiatan nya terbatas. Biasanya pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas sudah cukup untuk akuntansi agen. Pencatatan atas kegiatan agen harus dilakukan oleh system akuntansi pusat.

Apabila informasi rinci mengenai agen tidak terlalu diperlukan penjurnalan untuk mencatat kegiatan agen sbb :

  1. Pembentukan modal kerja agen :

    Modal kerja agen            Rp. 5.000.000

        Kas                            5.000.000

    (Untuk mencatat transfer kas kea gen)


     

  2. Transfer persediaan contoh kepada agen :

    Persediaan contoh-agen        Rp. 9.000.000

        Barabg dagangan (atau pembelian)            9.000.000

    (untuk mentransfer barang dagangan contoh kea gen)

  3. Pengantian dana modal kerja agen pada akhir bulan atau tahun :

    Biaya gaji                Rp. 2.200.000

    Biaya utilitas                 700.000

    Biaya iklan                 1.200.000

    Biaya lain-lain                 300.000

        Kas                            4.400.000

    (Untuk mencatat biaya yang terjadi di agen dan penggantian modal kerja)

  4. Penyesuaian persediaan contoh agen pada akhir bulan atau tahun :

    Biaya iklan                Rp. 3.000.000

        Persediaan contoh                    3.000.000

    (Untuk menyesuaikan persediaan contoh dengan nilai sebenarnya dan untuk membebankan pencatatannya pada biaya iklan)


     

    Jurnal tersebut digunakan untuk mencatat transaksi pengeluaran dank as dan barang dagangan yang dimiliki agen. Sistem yang dijelaskan di atas tidak cukup untuk melakukan control efektif atas pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan agen untuk mengukur kontribusi kegiatan agen pada pendapatan pusat.

    Ayat jurnal untuk system pencatatn agen yang lebih luas berikut ini. Jurnal ini memperlakukan aktiva tetap agen penjual Neon secara terpisah. Penjualan harga pokok penjualan dan informasi biaya ditunjukan dengan basis agen .

  1. Membeli tanahdan bangunan untuk agen Neon :

    Tanah-agen Neon                Rp 2.000.000

    Bangunan-agen Neon                Rp 18.000.000

        Kas                                Rp 20.000.000

    (Untuk membeli fasilitas untuk agen)


     

  2. Membentuk modal kerja agen :

    Modal kerja agen Neon                Rp. 4.000.000

        Kas                                Rp 4.000.000

    (Untuk mencatat transfer kas ke agen Neon)


     

  3. Transfer barang dagangan kea gen :

    Persediaan contoh agen Neon            Rp. 8.000.000

        Barang dagangan                        Rp 8.000.000

    (Untuk mencatat transfer persediaan contoh)


     

  4. Pembayaran gaji karyawan agen :

    Biaya gaji-agen Neon                Rp. 3.000.000

        Kas                                Rp 3.000.000

    (Untuk mencatat pemabayaran gaji karyawan agen)


     

  5. Pesanan penjualan dari agen telah diarsipkan dan dilakukan penagihan :

    Piutang dagang                    Rp. 12.000.000

        Penjualan                            Rp 12.000.000

    (Untuk mencatat penjualan kredit yang dilakukan oleh agen Neon)


     

    Harga Pokok Penjualan-agen Neon        Rp. 6.000.000

        Barang dagangan                         Rp 6.000.000

    (Harga pokok persediaan yang dijual agen Neon)


     

  6. Penggantian modal kerja agen pada akhir tahun :

    Biaya promosi-agen neon            Rp 1.800.000

    Biaya utilitas                    Rp 400.000

    Biaya lain-lain agen neon            Rp 300.000

        Kas                                Rp 2.500.000

    (Untuk mencatat pengantian modal kerja agen)


     

  7. Pencatatan penyusutan gedung agen :

    Biaya peyusutan-agen Neon            Rp. 900.000

        Akumulasi penyusutan-agen Neon                Rp 900.000

    (Untuk mencatat penyusutan gedung agen)


     

  8. Persediaan contoh agen disesuaikan agar mencerminkan pemakaian :

    Biaya promosi-agen Neon            Rp. 1.000.000

        Persediaan contoh agen Neon                    Rp 1.000.000

    (Untuk mencatat nilai persediaan contoh pada nilai yang dapat direalisasikan)


     

    Jurnal yang diberikan diatas adalah contoh bagaimana system akuntansi dapat diperluas untuk memberikan informasi terpisah mengenai kegiatan agen. Untuk perusahaan yang memiliki banyak agen pengumpulan informasi dengan bantuan teknologi computer sangat praktis dan tidak mahal.


 

  1. SISTEM AKUNTANSI KANTOR CABANG

Akuntansi kantor cabang membagi system akuntansi perusahaan secara terpisah antara kantor pusat dengan kantor caban. Kantor pusat terdiri dari unit akuntansi pusat untuk perusahaan, sedangkan kantor cabang terdiri dari tambahan system akuntansi untuk mencatat kegiatan setiap cabang.Sistem kantor pusat dan kantor cabang yang terpisah digunakan unuk tujuan akuntanssi dan pelaporan internal, teapi laporan keuangan pusat dan cabang harus digabung yntuk memenuhi kebutuhan akan pelaporan keuangan.


 

Transaksi antara Kantor Pusat dan Cabang

Transaksi antara kantor pusat dengan satuan usaha eksternal lainnya dicatat dengan prosedor akuntansi kantor pusat.

Pembentukan kantor cabang yang baru memerlukan pencatatan, baik dalam buku kantor pusat maupun buku cabang.Asumsi PT Enerton mendirikan kantor cabang di Surabaya dengan menstranfer kas sebesar Rp 5.000.000 dan perlengkapan Rp 10.000.000 kepada manajer kantor cabang.

Ayat Jurnal pada buku kantor pusat dan cabang masing-masing :


 

Buku kantor Pusat :

Cabang Surabaya                    Rp 15.000.000

    Kas                                Rp 5.000.000

    Peralatan                            Rp 10.000.000

    Untuk mencatat penerimaan kas dan peralatan dari kantor pusat


 

Buku kantor Cabang

Kas                            Rp 5.000.000

Peralatan                        Rp 10.000.000

    Kantor Pusat                            Rp 15.000.000

Untuk mencatat penerimaan kiriman dari kantor pusat


 

Akun cabang pada buku kantor pesat adalah aktiva yang mencerminkan investasi dilakukan kantor pusat dalam aktiva. Akun Kantor Pusat pada buku cabang adalah akun yang menggambarkan modal kantor pusat dalam aktiva bersih.

    Transaksi jenis kedua yang terjadi antara kantor pusat dengan kantor cabang adalah transaksi pengirman barang dagangan. Manajer kantor cabang ada yang memliki wewenang untuk membeli pemasok luar. Apabila PT Enervon mengirim barang dagangan ke cabang Surabaya dengan harga pokok Rp 8.000.000, maka jurnalnya adalah sebagai berikut :


 

Buku Kantor Pusat :

Cabang Surabaya                    Rp 8.000.000

    Pengiriman ke Cabang Surabaya                    Rp 8.000.000

Untuk mencatat pengiriman barang pada harga pokok ke cabang Surabaya


 

Buku Kantor Cabang :

Pengiriman dari kanto Pusat                Rp 8.000.0000

    Kantor Pusat                            Rp 8.000.000

Kantor mencatat penerimaan kiriman dari kantor pusat


 

  1. PENGIRIMAN BARANG DAGANGAN DI ATAS HARGA POKOK

Banyak perusahaan menggunakan harga transfer di atas harga pokok untuk mengirim internal ke cabang-cabang mereka. Beberapa perusahaan menetapkan harga transfer pada harga jual normal, sementara yang lainnya menggunakan mark-up standar. Ada juga perusahaan yang menetapkan harga transfer di atas harga pokok. Alasan yang mendasari penetapan harga transfer di atas harga pokok, antara lain adalah agar alokasi pendapatan antarunit dalam perusahaan dilakukan dengan wajar, agar harga persediaan ditetapkan dengan efisien dan agar margin laba dari tiap-tiap cabang diungkapkan dengan sebenarnya.

  1. Pengiriman ke Cabang Dicatat pada Harga Pokok

    Ketika kantor pusat mengirim barang dagangan kepada cabangnya dengan harga transfer di atas harga pokok, pencatatan akuntansi pada buku kantor pusat harus disesuaikan dengan biaya aktual dari barang yang dikirim.

    1. Jurnal mencatat pengiriman ke Cabang Tegal 120% dari harga pokok

      Buku Kantor Pusat

    Cabang Tegal    Rp 120.000.000

        Pengiriman ke Cabang Tegal ( harga pokok )        Rp 100.000.000

        Laba belum direaliasasi Cabang Tegal        Rp 20.000.000


 

  1. Jurnal mencatat penerimaan persediaan dari kantor pusat

    Pengiriman dari kantor pusat    Rp 120.000.000

    Kantor pusat    Rp 120.000.000


 

Ketika cabang menerima barang pada harga transfer yang mencangkup laba belum direalisasi dan menjualnya, maka HPPnya menjadi terlalu tinggi (overstated) dan labanya terlalu rendah (understated). Kantor pusat mencatat laba atau rugi pada cabang berdasarkan laporan pendapatan yang dibuat oleh cabang, sehingga jika cabang dilaporkan terlalu rendah, maka laba cabangnya yang dicatat kantor pusat menjadi terlalu rendah juga. Penilaian laba cabang yang terlalu rendah ini dikoreksi melalui ayat jurnal penyesuaian.

  1. Jurnal sebelum penyesuaian

Buku Kantor Pusat

Cabang Tegal    Rp 120.000.000

        Pengiriman ke Cabang Tegal ( harga pokok )        Rp 100.000.000

        Laba belum direaliasasi Cabang Tegal        Rp 20.000.000


 

Buku Kantor Cabang Tegal

Penjualan    Rp 160.000.000

Pengiriman dari Kantor Pusat    Rp 120.000.000

    Biaya        Rp 30.000.000

    Kantor Pusat        Rp 22.000.000


 

  1. Jurnal untuk menutup akun nominal dan mentransfer saldo ke akun kantor pusat

    Penjualan    Rp 160.000.000

    Persediaan 31 Desember19X1    Rp 12.000.000

        Pengiriman dari Kantor Pusat         Rp 120.000.000

        Biaya        Rp 30.000.000    

        Kantor Pusat (Mencerminkan laba kantor cabang)        Rp 22.000.000

    

  1. Jurnal mencatat laba cabang dan memperbaharui akun cabang

    Cabang Tegal    Rp22.000.000

        Laba Cabang Tegal        Rp22.000.000


     

  2. Jurnal untuk menyesuaikan akun laba belum direalisasi dan laba cabang

    Laba belum direalisasi Cabang Tegal    Rp18.000.000

        Laba Cabang Tegal        Rp18.000.000


     

    Setelah ayat jurnal dibukukan, akun laba belum terealisasi akan memiliki saldo Rp 2.000.000,00 sama dengan saldo laba yang belum direalisasi pada persediaan cabang tegal. Akun laba cabang menunjukkan saldo Rp 40.000.000,00. Dengan menambahkan Rp 40.000.000,00laba cabang ke laba kantor pusat, maka jumlah totalnya adalah laba bersih gabungan untuk perusahaan itu. Jurnal akhir tahun adalah sama, hanya perbedaan ada pada persediaan awal pada harga transfer untuk kantor cabang, dan Kantor pusat saldo awal pada akun "tambahan laba cabang" yang sama dengan laba yang belum direalisasi pada persediaan awal cabang.

                 

  3. Pengiriman ke Cabang Dicatat pada Harga Penagihan ( Billing Price )

    Beberapa perusahaan mencatat pengiriman barang ke cabang berdasarkan harga penagihan dan menyesuaikan akun laba belum direalisasinya hanya pada akhir periode akuntansi. Pada saat pendekatan ini digunakan, saldo akun laba belum direalisasi selama periode akuntansi mencerminkam kalau laba yang belum direalisasi pada persediaan awal cabang, dan akun pengiriman ke cabang mencakup laba belum direalisasi untuk periode berjalan.


     

    1. Jurnal pengiriman barang ke Cabang Tegal dengan harga penagihan. ( dengan jurnal ini saldo Kantor pusat dan Cabang Tegal akan sama )

      Cabang Tegal    Rp120.000.000

          Pengiriman ke Cabang Tegal                         Rp120.000.000


       

    2. Jurnal menyesuaikan pengiriman dengan basis biaya

      Pengiriman ke Cabang Tegal    Rp20.000.000

    Laba belum direalisasi Cabang Tegal                      Rp20.000.000


 

  1. Jurnal menyesuaikan laba cabang atas realisasi mark-up pada pengiriman ke cabang

    Laba belum direalisasi Cabang Tegal     Rp18.000.000

    Laba Cabang Tegal    Rp18.000.000

0 komentar:

Poskan Komentar