Tampilkan postingan dengan label Pengauditan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengauditan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 November 2010

Unsur-Unsur Struktur Pengendalian Intern


Unsur-Unsur Struktur Pengendalian Intern 
Struktur Pengendalian Intern terdiri atas lima (5) unsur atau elemen yaitu:
            Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalain orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur.
Beberapa faktor yang berpengaruh di dalam lingkungan pengendalian antara lain:
·         Integritas dan Nilai Etik
Merupakan etika entitas yang dimiliki dan standar perilaku yang berlaku serta bagaimana mereka mengkomunikasikan dan mengaplikasikan dalam praktik.
·         Komitmen terhadap kompetensi
Kompetensi merupakan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
·         Dewan Direksi dan Komite Audit
Jajaran direktur yang efektif adalah yang independen terhadap manajemen. Komite audit bertanggung jawab sebagai komunikator, baik bagi internal auditor maupun eksternak auditor.
·         Gaya Manajemen dan Gaya Operasi
Pemahaman dan aspek-aspek tentang filosofi manajemen dan gaya operasi memberi auditor suatu pemahaman mengenai sikap manajemen terhadap pengendalian intern.
·         Struktur Organisasi
Pemahaman struktur organisasi memberi gambaran bagi auditor mengenai manajemen dan elemen-elemen fungsional dari bisnis dan bagaimana pengendalian diimplementasikan.
·         Pemberian Wewenang dan Tanggung Jawab
Memberi pemahaman mengenai pengendalaian dan cara-cara yang digunakan untuk pengendalian, perencanaan formal organisasi dan operasi, penugasan karyawan dan kebijakan yang dimiliki entitas.
·         Praktek dan Kebijakan Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia merupakan aspek penting dalm pengendalian intern. Pengendalian intern yang dikembangkan entitas berusaha untuk mengatur, menjaga tindakan-tindakan yang dilakukan manusia dalam entitas.

            Penaksiran Risiko
Penaksiran risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola. Penetuan risiko tujuan laporan keuangan adalah identifikasi organisasi, analisis, dan manajemen risiko yang berkaitan dengan pembuatan laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.
Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan sebagai berikut:
  1. ·         Perubahan dalam lingkungan operasi
  2. ·         Personel baru
  3. ·         Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki
  4. ·         Teknologi baru
  5. ·         Lini produk, produk, atau aktivitas baru
  6. ·         Restrukturisasi korporasi
  7. ·         Operasi luar negeri
  8. ·         Standar akuntansi baru
     
      Semua entitas memiliki risiko tergantung dari ukuran, struktur, sifat, atau jenis dari perusahaan. risiko tersebut dapat berupa risiko eksternal dan internal dan semua harus bisa dikendalikan. Perubahan ekonomi, industri, regulasi serta kondisi operasi memungkinkan timbulnya risiko berbeda yang harus segera dapat diatasi oleh manajemen.
      Auditor berkepentingan untuk memahami mengenai pengetahuan tentang penilaian risiko yang dilakukan oleh manajemen, seperti pengidentifikasian risiko terhadap laporan keuangan, pengevaluasian kemungkinan terjadinya, keputusan manajemen atas tindakan yang akan dilakukan.

            Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Umumnya aktivitas pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijkan dan prosedur yang berkaitan dengan berikut ini:
  1. ·         Review terhadap kinerja
  2. ·         Pengolahan informasi
  3. ·         Pengendalian fisik
  4. ·         Pemisahan tugas

Aktivitas pengendalian dapat dikategorikan sebagai berikut:
·         Pengendalian Pemrosesan Informasi
Hal ini berkaitan dengan proses otorisai, kelengkapan dan keakuratan data keuangan. Pengendalain pemrosesan informasi digolongkan menjadi dua (2), yaitu:
-        Pengendalian umum
-        Pengendalian aplikasi
Pengendalian yang ditujukan untuk pemrosesan tipe-tipe transaksi baik di lingkungan komputer maupun manual dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
*      Otorisasi yang tepat (setiap bukti transaksi diotorisasi secara tepat sehingga tidak ada bukti yang melewati prosedur otorisasi)
*      Pencatatan dan dokumentasi (semua bukti transaksi telah dicatat dan didokumentasikan dan bila akan diperiksa, dapat dilacak kembali)
*      Pemeriksaan independen
·         Pemisahan tugas
·         Pengendalian fisik
·         Telaah kinerja

Pengembangan atas aktivitas pengendalian berkaitan dengan kebijakan dan prosedur dapat dijabarkan dalam lima (5) aktivitas pengendalian berikut:
a.       Pemisahan tugas
b.      Otorisasi yang jelas atas transaksi dan aktivitas
c.       Pendokumentasian dan pencatatan
d.      Pengendalian fisik atas assets dan catatan
e.       Pengecekan secara independen atas kinerja

            Informasi dan Komunikasi
Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.

Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai tentang sistem informasi yang relevan dengan pelaporan keuangan untuk memahami:
a.       Golongan transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi laporan keuangan
b.      Bagaimana transaksi tersebut dimulai
c.       Catatan akuntansi, informasi pendukung, dan akun tertentu dalam laporan keuangan yang tercakupalam pengolahan dan pelaporan transaksi
d.      Pengolahan akuntansi yang dicakup sejak transaksi dimulai sampai dengan dimasukkan ke dalam laporan keuangan, termasuk alat elektronik (seperti komputer dan electronic data interchange) yang digunkan untuk mengirim, memproses, memelihara, dan mengakses informasi

            Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain dan operasi pengendalian tepat waktu dan pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus (ongoing activities), evaluasi secara terpisah (separate periodic evaluations), atau dengan berbagai kombinasi dari keduanya.

Auditor perlu memahami mengenai pemantauan untuk mengetahui aktivitas pemantauan seperti apakah yang digunakan perusahaan dan bagaimana aktivitas tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan pengendalian internal bila dibutuhkan.

Definisi dan Pentingnya Struktur Pengendalian Intern


Pengertian Struktur Pengendalian Intern
Dalam Standar Profesional Akuntan Publik pada SA 319. par 06 dikemukakan bahwa:
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
           
      Dengan demikian struktur pengendalian intern merupakan rangkaian proses yang dijalankan entitas, yang mana proses tersebut mencakup berbagai kebijakan dan prosedur sitematis, bervariasi dan memiliki tujuan utama:
a.       Menjaga keandalan pelaporan keuangan entitas
b.      Menjaga efektivitas dan efisiansi operasi yang dijalankan
c.       Menjaga kepatuhan hukum dan peraturan yang berlaku

Telah lama diakui kalau pengendalian intern penting bagi manajemen dan auditor dalam berbagai literature yang berkaitan dengan pengendalian intern karena:
a.       Lingkup dan ukuran entitas bisnis semakin komplek
b.      Pemeriksaan dan penelaahan bahwa dalam sistem yang baik memberikan perlindungan terhadap kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kekeliruan dan ketidakberesan yang terjadi
c.       Pengendalian intern yang  baik akan mengurangi beban pelaksanaan auit sehingga dapat mengurangi biaya ataupun fee audit

Bagi perusahaan, struktur pengendalian intern memberikan kepastian bahwa penggelapan ataupun penyimpangan terhadap laporan keuangan dapat dicegah atau dideteksi lebih dini.

Unsur -Unsur Struktur Pengendalian Intern dapat dilihat disini

Kamis, 04 November 2010

Jenis-jenis Bukti Audit

Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke Sembilan jenis bulti tersebut:

1. Struktur Pengendalian Intern
Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya.

2. Bukti Fisik
Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya.

Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, danobservasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fdisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.

3. Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur pengendalian intern.

4. Konfirmasi
Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya.
Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu:
a. Konfirmasi positif
b. Blank confirmation
c. Konfirmasi negative

Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan:
a. Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
b. Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan
c. Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang
d. Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor

5. Bukti Dokumenter
Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurutr sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara langsung
b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien
c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien

Bukti documenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada
kelompok b. Bukti documenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c. bukti documenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening Koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti documenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti documenter dapat memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliabel) untuk semua asersi.

6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis
Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk semua asersi.

7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis
Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya:
a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical
b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal
c. Perhitungan depresiasi
Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan biaya murah.

8. Bukti Lisan
Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua asersi.

9. Bukti Analitis dan Perbandingan
Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran hubungan antas pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian.

Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyebabnya.
download

Jenis-jenis Konfirmasi Audit

Konfirmasi positif merupakan konfirmasi yang repondennya diminta untuk menyatakan persetujuan atau penolakan terhadap informasi yang dinyatakan.
Blank confirmation merupakan konfirmasi yang respondennya diminta untuk mengisikan saldo atau informasi lain sebagai jawaban atas suatu hal yang dinyatakan.
Konfirmasi negative merupakan konfirmasi yang respondennya diminta untuk memberikan jawaban hanya jika ia menyatakan ketidak setujuannya terhadap informasi yang dinyatakan. Bukti konfirmasi dapat memberikan bukti yang reliable untuk semua asersi terutama asersi keberadaan atau keterjadian

Rabu, 03 November 2010

Strategi Audit: Lower assessed level of control risk approach

Lower assessed level of control risk approach

    Auditor lebih mengutamakan pengujian pengendalian daripada pengujian substantive pada strategi ini. Hal ini bukan berarti auditor sama sekali tidak melakukan pengujian substantive. Auditor tetap melakukan pengujian substantive meskipun tidak se-ekstensif pada Primarily substantive approach. Auditor lebih banyak melakukan prosedur
untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien. Strategi ini lebih banyak dipakai dalam audit atas klien lama daripada audit yang pertama kali atas klien baru. Strategi ini digunakan apabila auditor, atas dasar pengalaman maupun tahap perencanaan sebelumnya, menemukan kondisi sebagai berikut:

  1. Pengendalian yang terkait dengan suatu asersi dirancang dengan baik, dan sangat efektif. Struktur pengendalian intern klien sangat efektif tersebut akan dapat mengurangi kemungkinan salah saji. Oleh karena itu, auditor harus menguji apakah struktur pengendalian intern klien benar-benar efektif dalam mendeteksi salah saji. Auditor lebih banyak melakukan pengujian pengendalian.
  2. Biaya untuk melaksanakan:
    1. Prosedur tambahan untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern
    2. Test of control untuk mendukung lower assessed level of control risk lebih rendah dari pada biaya untuk melaksanakan test substantive yang lebih ekstensif.
  3. Akun yang diperiksa adalah akun yang dipengaruhi transaksi rutin, dan volumenya tinggi. Contoh akun seperti itu adalah:
    1. Penjualan
    2. Piutang dagang
    3. Persediaan
    4. Biaya upah dan gaji

Strategi Audit: Primarily Substantive Approach

Primarily substantive approach

Pada strategi ini, auditor lebih mengutamakan pengujian substantive daripada pengujian pengendalian. Auditor relative lebih sedikit melakukan prosedur untuk memperoleh pemahaman struktur pengedalian intern klien. Strategi ini lebih banyak dipakai dalam audit yang pertama kali daripada atas klien lama.

Strategi ini digunakan apabila auditor, atas dasar pengalaman maupun tahap perencanaan sebelumnya, menemukan kondisi sebagai ebrikut:

  1. Pengendalian yang terkait dengan suatu asersi, tidak efektif. Oleh karena itu, salah saji tidak akan dpat dicegah atau dideteksi oleh struktur pengendalian intern klien. Auditor kemudian menguji apakah salah saji yang tak terdeteksi oleh struktur pengendalian intern klien tersebut, dapat dideteksi oleh prosedur audit. Dengan demikian, auditor akan lebih banyak melakukan pengujian substantive.
  2. Biaya untuk melaksanakan :
    1. Prosedur tambahan untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern
    2. Test of control untuk mendukung lower assessed level of control risk melebihi biaya untuk melaksanakan test substsntif yang lebih ekstensif.
    Kedua kondisi ini biasanya terkait dengan asersi akun:

    1. Yang dipengaruhi terutama oleh transaksi tidak rutin atau jarang terjadi seperti aktiva tetap, utang obligasi, dan modal saham
    2. Yang sangat memerlukan jurnal penyesuaian seperti akumulasi depresiasi.

Minggu, 17 Oktober 2010

Penerimaan Penugasan Audit Oleh Auditor

PENERIMAAN PENUGASAN

Setiap kantor akuntan publik selalu bersaing dengan kantor akuntan publik lainnya. Mereka harus dapat menghimpun sebanyak mungkin klien, untuk mempertahankan eksistensinya. Oleh karena itu, auditor harus mempertimbngkan secara matang setiap permintaan auditing atau penugasan audit dari klien. Permintaan tersebut dapat berasal dari klien lama atau klien baru. Auditor perlu memperhatikan dengan cermat setiap penugasan audit terutama audit atas klien baru. Klien baru dibedakan menjadi dua yaitu:

  • Klien yang sama skali belum pernah diaudit;
  • Klien pindahan dari kantor akunta publik lain.

Untuk klien baru yang sama sekali belum pernah diaudit tidak timbul masalah berpindahnya atau beralihnya kantor akuntan publik yang ditunjuk. Pada klien baru pindahan masalah tersebut muncul, karena menyangkut etika professional. Untuk itu perlu diketahui alasan mengapa seorang klien berpindah akuntan publik. Ada beberapa penyebab klien berganti kantor akuntan publik, antara lain:

  1. Merger dua perusahaan yang kantor akuntan publiknya berbeda.
  2. Ketidakpuasan terhadap kantor akuntan publik.

    Hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa sebab. Ada empat penyebab ketidakpuasan klien terhadap kantor akuntan publik lama, yaitu:

    1. Klien merasa fee kantor akuntan publik lama terlalu tinggi.
    2. Klien membutuhkan jasa professional yang lebih luas dan tidak sekedar audit atas laporan keuangan saja, tetapi jasa profesi lainnya seperti konsultasi pajak, dan konsultasi manajemen.
    3. Klien mencari kantor akuntan publik yang kredibilitasnya tinggi untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangannya di mata para pemakai.
    4. Tuntutan suatu lembaga berwenang, misalnya BAPEPAM, direktorat jendral pajak, agar laporan keuangannya diaudit oleh kator akuntan publik yang berlisensi dari lembaga tersebut.
  3. Merger antar kantor akuntan publik.

    Bisa terjadi, karena merger kantor akuntan publik tersebut menjadi lebih besar dan klien tidak dapat mengimbangi keinginan kantor akuntan publik yang merger tersebut, klien berpindah ke kantor akuntan publik yang lain.

Dalam setiap permintaan audit atau penugasan, auditor harus mempertimbangkan tiga hal penting, yaitu:

  1. Tanggung jawabnya terhadap publik, yaitu independensi, integritas, dan obyektivitas.
  2. Tanggungjawabnya terhdap klien, yaitu melakukan audit dengan kompetensi dan profesionalisme yang tinggi.
  3. Tanggung jawabnya terhadap rekan lain seprofesi, yaitu mengembangkan kehidupan profesi dan kemampuan melayani publik.

Selanjutnya, ada empat langkah yang harus dilakukan dalam mempertimbangkan setiap permintaan audit agar ketiga tanggung jawab tersebut dapat dijalankan dengan baik. Keempat langkah tersebut adalah:

  1. Mengevaluasi integritas manajemen.
  2. Mengidentifikasi kondisi khusus dan risiko yang tidak biasa.
  3. Menilai kemampuan auditor untuk memenuhi standar umum auditing.
  4. Menyiapkan surat penugasan audit.

MENGEVALUASI INTEGRITAS MANAJEMEN

Pengevaluasian integritas manajemen dilakukan dalam kaitannya dengan peluang terjadinya salah saji material pada laporan keuangan akibat kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggarn hukum yang terjadi dalam proses pencatatan akuntansi. Bila integritas manajemen tidak dapat dipercaya, auditor harus menolak penugasan audit.

Informasi mengenai integritas manajemen dapat diperoleh dari berbagai sumber. Berkaitan dengan klien, maka sumber informasi dibedakan untuk setiap jenis klien seperti berikut:

  1. Klien baru yang pernah diaudit.
  2. Klien baru yang belum pernah diaudit.
  3. Klien lama.

KLIEN BARU YANG PERNAH DIAUDIT KANTOR AKUNTAN PUBLIK LAIN

Untuk memperoleh informasi mengenai integritas manajemen, auditor (sebagai auditor pengganti) harus mengambil inisiatif untuk berkomunikasi auditor klien sebelumnya (auditor pendahulu). Auditor pendahulu adalah auditor yang telah mengundurkan diri atau diberitahu oleh klien bahwa tugasnya telah berakhir dan tidak diperpanjang dengan penugasan baru. Auditor pengganti adalah auditor yang telah menerima suatu penugasan atau auditor yang telah diundang untuk mengajukan proposal untuk penugasan audit. Komunikasi ini harus dilakukan setelah memperoleh ijin klien. Auditor perlu meminta klien untuk memberi wewenang kepada auditor terahulu agar dapat memberikan respon penuh terhadap pertanyaan yang diajukan auditor.

Hal-hal yang perlu diselidiki oleh auditor meliputi:

  1. Integritas manajemen
  2. Perbedaan pendapat dengan manjemen mengenai prinsip akuntansi dan prosedur audit
  3. Pengetahuan kantor akuntann publik terdahulu tentang alasan klien berganti auditor
  4. Kesulitan-kesulitan yang ditemui auditor terdahulu dalam mengaudit klien. Auditor dapat juga mengajukan pertanyaan, atas ijin klien bila memang diperlukan, kepada pihak ketiga untuk menilai integritas manajemen.

Dalam SA seksi 315 dikemukakan bahwa dengan berkomunikasi dengan auditor pendahulu, auditor pengganti dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih mudah. Kemudahan tersebut diperoleh apabila auditor penggant:

  1. Mengajukan pertanyaan spesiik kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah yang menurut keyakinannya akan mempengaruhi pelaksanaan auditnya, seperti lingkup audit yang memakan waktu berlebihan atau masalah-masalah audit yang ditimbulkan oleh kondisi sistem akuntansi dan catatan-catatan akuntansi yang kurang baik, dan
  2. Me-review kertas kerja auditor pendahulu.

KLIEN BARU YANG BELUM PERNAH DIAUDIT

Pihak ketiga meliputi bankir, konsultan hukum pejabat, lembaga pemerintah terkait, dan masyarakat bisnis yang berhubungan dengan klien. Auditor dpat memperoleh informasi dari mereka mngenai kejujuran manajemen dalam hal pajak, keuangan, dan sebagainya. Disamping itu, auditor dapat menelaah pergantian yang terjadi pada manajemen puncak. Klien lama auditor dapat menelah kembali pengalamannya dalam menilai integritas manajemen. Auditor perlu menyelidiki apakah ada kekeliruan, dan ketidakberesan, dan pelanggaran hukum yang ditemukan dalam audit sebelumnya. Auditor juga dapat mengajukan pertanyaan kepada pihak ketiga untuk menilai integritas manajemen pada saat itu.

MENGIDENTIFIKASI KONDISI KHUSUS DAN RISIKO DAN TIDAK BIASA

Ada tiga langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi khusus dn risiko yang tidak biasa, yaitu:

  1. Mengidentifikasi pemakai laporan keuangan auditan.
  2. Menentukan prospek stabilitas hukum dan keungan klien.
  3. Mengevaluasi auditabilitas satuan usaha.

Auditor perlu mengidentifikasikan siapa pemakai laporan keuangan auditan. Langkah ini diperlukan karena pemakailah yang akan menentukan pertanggungjawaban secara hukum dari auditor seandainya mereka merasa dirugikan akibat penggunaan laporan audit maupun laporan keuangan auditan. Auditor juga perlu mengidentifikasi persyaratan pelaporan tambahan dari pemakai misalnya Ditjen Pajak atau BAPEPAM. Auditor juga perlu menyelidiki propek stabilitas hukum dan keuangan klien dalam mengevaluasi auditabilitas klien, auditor akan menilai kecukupan catatan akuntansi, peran manajemen dalam pelaksanan struktur pengendalian intern, dan pembatasan lingkup audit.


 

MENILAI KEMAMPUAN UNTUK MEMENUHI STANDAR UMUM AUDITING

Seperti telah dijelaskan di muka, standar umum terdiri atas tiga standar. Oleh karena itu, penilaian kemampuan memenuhi standar umum terdiri atas tiga tahap, yaitu:

Penentuan KOmpetensi untuk Melaksanakan Audit

Standar umum pertama menuntut kopetensi teknis auditor dalam melaksanakan penugasan audit. Ada dua langkah yang dilakukan untuk menentukan kompetensi dalam melaksanakan audit, yaitu:

  1. Mengidentifikasi tim audit yang diperlukan
  2. Mempertimbangkan perlunya konsultasi dan tenaga spesialis.

Identifikasi tim audit yang dierlukan dilakukan melaui pemahaman sekilas mengenai karakteristik bisnis dan sistem informasi klien. Tim audit, seandainya perlu, dapat didukung dengan menggunkan spesialis maupun mengadakan konsultasi dengan orang yang ahli dalam bidang tertentu yang terkait dalam pelaksanaan audit.

Pengevaluasian Independensi

Standar umum kedua menuntut sikap mental independen auditor dalam melaksanakan audit. Standar tersebut mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam kode etik agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat.

Auditor tidak dapat memberikan pernyataan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan bila ia tidak independen terhadap klien. Kerja auditor akan sia-sia seandainya ia tidak independen dalam penampilan meskipun auditor benar-benar independen in fact (senyatanya).

Penentuan Kemampuan Melaksanakan Audit secara Cermat dan Seksama

Standar umum ketiga menyatakan bahwa dalam pelaksanakan audit dan penyusunan laporannya auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya sengan cermat dan seksama. Ada dua hal yang menentukan kemampuan auditor melaksnakan kecermatan dan keseksamaan, yaitu:

  1. Waktu yang ditetapkan untuk menyelesaikan audit. Semakin lama waktu yang ditetapkan untuk menyelesaikan audit (dead line) semakin siap dan leluasa bagi auditor untuk melaksanakan audit dengan cermat dan seksama.
  2. Pembuatan skedul pekerjaan lapangan. dalam membuat skedu suditor mempertimbangkan tiga hal yaitu perencanaan waktu, anggaran biaya, dan personil. Pertimbangan mengenai ketiga hal tersebut, dilakuikan dengan mempertimbangkan juga berbagai proyek lainnya yang sedang maupun yang akan ditangani suatu kantor akuntan publik.

MENYIAPKAN SURAT PENUGASAN AUDIT

Surat penugasan audit dibuat oleh auditor untuk kliennya. Surat ini berfungsi untuk mendokumentasikan dan menegaskan:

  1. Penerimaan auditor atas petunjukkan oleh klien.
  2. Tujuan dan lingkup audit.
  3. Luas tanggung jawab yag dipikul oleh auditor bagi kliennya, dan tanggung jawab manajemen atas informasi keuangan.
  4. Kesepakatan mengenai repoduksi laporan keuangan auditan.
  5. Kesepakatan mengenai bentuk laporan yang akan diterbitkan auditor untuk menyampaikan hasil penugasan.
  6. Fakta bahwa audit memiliki keterbatasan bawaan kekeliruan dan ketidakberesan material tidak akan terdeteksi.
  7. Kesanggupan auditor untuk menyampaikan informasi tentang kelemahan signifikan dalam struktur pengendalian intern yang ditemukan oleh auditor dalam auditnya.
  8. Akses ke berbagai catatan, dokumentasi dan informasi lain yang diharuskan dalam kaitannya dengan audit.
  9. Kesepakatan mengenai dasar penentuan fee audit.

Selain itu, suatu surat penugasan dapat pula berisi hal-hal lain sesuai kesepakatan yang dicapai. Hal-hal lain tersebut seperti:

  1. Pengaturan berkenaan dengan perencanaan auditnya.
  2. Pengaturan tentang pengikutsertaan auditor lain dan/atau tenaga ahli dalam beberapa aspek audit.
  3. Dan lain-lain.

Ada beberapa factor yang menyebabkan auditor memutuskan peniriman surat penugasan audit baru (SA seksi 320), yaitu:

  1. Adanya petunjuk bahwa klien salah paham mengenai tujuan dan lingkup audit.
  2. Adanya syarat-syarat penugasan yang direvisi atau khusus.
  3. Perubahan manajemen yang terjadi akhir-akhir ini.
  4. Perubahan signifikan dalam sifat dan ukuran bisnis klien.
  5. Persyaratan hukum.


 

Waktu Penerimaan Penugasan

    Waktu penerimaan penugasan oleh auditor dapat dilakukan sebelum maupun sesudah tutup buku. Bila penerimaan penugasan dilakukan sebelum tutup buku, maka auditor dapat dengan leluasa merencanakan program audit. Bila penugasan diterima setelah tutup buku, maka auditor akan menghadapi banyak kendala, terutama kendala waktu, dalam melaksanakan audit.


 

PERENCANAAN AUDIT

    

    Standar pelaksanaan pekerjaan lapangan mengharuskan perencanaan yang sebaik-baiknya dalam setiap penugasan audit. Oleh sebab itu tahap perencanaan audit merupakan tahap yang mau tidak mau harus mendapat perhatian yang serius dari auditor. Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh untuk merencanakan pelaksanaan audit.

Luas dan kelengkapan perencanaan sanagt tergantung pada:

  1. Ukuran dan kompleksitas perusahaan klien
  2. Pengalaman auditor dengan klien
  3. Pengetahuan dan kemampuan auditor beserta seluruh stafnya


 

Dalam pembahasan ini, ada enam langkah yang dilakukan dalam perencanaan audit, yaitu:

  1. Menghimpun pemahaman bisnis klien dan industri klien
  2. Melakukan prosedur analitis
  3. Melekukan penilaian awal terhadap materialitas
  4. Menilai risiko audit
  5. Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi yang signifikan
  6. Menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern klien


 

MENGHIMPUN PEMAHAMAN BISNIS KLIEN DAN INDUSTRI KLIEN


 

        Penghimpunan pemahaman bisnis dan industri klien dilakukan dengan tujuan untuk mendukung perencanaan audit yang dilakukan auditor. Pemahaman kejadian, transaksi, dan praktik yang berpengaruh signifikan atas laporan keuangan harus dihimpun oleh auditor. Pemahaman tersebut akan digunakan untuk merencanakan lingkup audit, memperkirakan masalah-masalah yang mungkin timbul, dan menentukan atau memodifikasi prosedur audit yang direncanakan.


 

        Hal-hal yang perlu dipahami oleh auditor antara lain:

  1. Jenis bisnis dan produk klien
  2. Lokasi dan karakteristik operasi klien
  3. Jenis dan karakteristik industri
  4. Eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungan erat dengan klien
  5. Regulasi pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri klien
  6. Karakteristik laporan yang harus diberikan kepada badan regulasi


 

Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri klien dapat diperoleh melalui:

Penelaahan kertas kerja tahun lalu

Penelaahan kertas kerja audit tahun sebelumnya terhadap klien berguna untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin masih ada.

Penelaahan data industri dan data bisnis

Informasi industri dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain buletin atau publikasi industri, standar dan pedoman akuntansi industri klien. Data bisnis klien dapat dihimpun melalui penelaahan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga klien, analisis laporan keuangan interim, penelaahan kontrak atau perjanjian penting, penelaahan notulen rapat klien, dan sebagainya.

Peninjauan terhadap operasi klien

Berkaitan dengan hal ini auditor meninjau tempat operasi klien dengan maksud untuk mengetahui karakteristik operasi klien, dan berkesempatan menjumpai personel kunci dalam organisasi klien.

Pengajuan pertanyaan pada dewan komisaris maupun komite audit

Melalui pengajuan pertanyaan pada dewan komisaris maupun komite audit, auditor dapat memperoleh informasi tentang kekuatan dan kelemahan struktur pengendalian intern klien, pengubahan signifikan struktur organisasi dan manajemen perusahaan. Di samping itu, auditor dapat meminta tambahan dan modifikasi audit yang direncanakan

Pengajuan pertanyaan pada manajemen

Ada beberapa pertanyaan mengenai bisnis dan industri klien yang dapat diajukan kepada manajemen, antara lain:

  1. Pengembangan bisnis yang sedang dilakukan yang berpengaruh pada audit
  2. Regulasi baru dari pemerintah
  3. Ketertarikan manajemen atas audit terhadap suatu divisi atau anak perusahaan yang baru

Penentuan keberadaan hubungan ekonomis dengan perusahaan lain dalam satu kelompok usaha

Keberadaan hubungan ekonomis yang dimaksud adalah transaksi klien dengan anak maupun induk perusahaan, maupun transaksi antara klien dengan satuan usaha lain di bawah satu holding company yang sama.

Auditor perlu menghimpun lebih banyak bukti dan lebih menuntut bukti yang kompeten. Berkaitan dengan hal ini, auditor dapat mengambil berbagai tindakan seperti berikut:

  1. Mengevaluasi prosedur perusahaan untuk pengidentifikasian dan pencatatan transaksi antar pihak terkait
  2. Menelaah kepatuhan terhadap kewajiban pengungkapan mengenai hal tersebut yang disyaratkan oleh badan regulasi misalnya BAPEPAM
  3. Menelaah kertas kerja audit sebelumnya mengenai hal itu
  4. Menelaah transaksi investasi material selama periode dilakukannya audit ( untuk menentukan ada tidaknya transaksi yang direkayasa)

MELAKUKAN PROSEDUR ANALITIS


 

    Prosedur analitis adalah pengevaluasian informasi keuangan yang dibuat dengan mempelajari hubungan-hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data non keuangan. Prosedur analitis dilakukan dalam tiga tahap audit, yaitu:

Tahap perencanaan

Prosedur analitis berguna untuk membantu auditor merencanakan sifat, penentuan waktu, dan luas prosedur audit.

Tahap pengujian atau tahap pekerjaan lapangan

Prosedur analitis merupakan prosedur audit yang optional, dilakukan sebagai salah satu pengujian substantif untuk menghimpun bahan bukti tentang asersi tertentu yang terkait dengan saldo rekening ataupun kelompok transaksi.

Tahap penyimpulan hasil audit

Prosedur analitis berguna sebagai alat untuk penelaahan akhir tentang rasionalitas laporan keuangan auditan.


 

Dalam Standar Auditing seksi 329 paragraf 06 dikemukakan bahwa prosedur analitis dalam perencanaan audit harus ditujukan untuk:

  1. Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien dan transaksi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir, dan
  2. Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan risiko tertentu yang bersangkutan dengan audit. Jadi tujuan prosedur ini adalah untuk mengidentifikasi hal-hal seperti adanya transaksi dan peristiwa yang tidak biasa, dan jumlah, rasio serta tren yang dapat menunjukkan masalah yang berhubungan dengan laporan keuangan dan perencanaan audit.


 

    Enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analitis, yaitu:

Mengidentifikasi Perhitungan dan Perbandingan yang Akan Dibuat

    Ada empat jenis perbandingan yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Perbandingan data absolut
  2. Analisis rasio keuangan
  3. Common size analysis atau analisis ukuran umum
  4. Analisis tren

Mengembangkan Ekspektasi

Sumber data yang digunakan sebagai ukuran nilai yang diharapkan atau nilai pembanding terdiri dari sumber internal (berupa laporan keuangan interim maupun tahunan, data statistic penjualan, statistic produksi yang dapat menggambarkan kapasitas dan volume produksi, dan data intern lainnya) dan eksternal (berupa data industri dari Pusat Data Bisnis Indonesia, data industri dari lembaga pemerintahan seperti Biro Pusat Statistik, dan proyeksi yang dilakukan auditor).

Melakukan Perhitungan dan Perbandingan

Perhitungan dan perbandingan meliputi pengakumulasian data untuk perhitungan jumlah absolut dan persentase perbedaan antara jumlah saat ini dengan periode sebelumnya maupun jumlah yang diprediksikan, perhitungan common size.

Menganalisis Data

Auditor menganalisis data dengan cara mengidentifikasikan perbedaan signifikan dan fluktuasinya.

Menyelidiki Perbedaan atau Penyimpangan yang Tidak Diharapkan yang Signifikan

Hal ini meliputi juga pertimbangan kembali metode dan faktor yang dipakai dalam mengembangkan ekspektasi, dan pengajuan pertanyaan kepada manajemen. Bila ada perbedaan atau penyimpangan yang tak dapat dijelaskan, auditor harus menentukan impaknya atas laporan keuangan klien.

Menentukan Pengaruh Perbedaan atau Penyimpangan Atas Perencanaan Audit

Adanya perbedaan signifikan yang tidak dapat dijelaskan secara rasional maka akan meningkatkan risiko salah saji dalam akun yang terkait dalam perhitungan dan perbandingan. Risiko salah saji yang meningkat menuntut perlunya pegujian yang lebih intensif dan lebih mendetail pada akun-akun tertentu tersebut. Dengan demikian pelaksanaan audit akan lebih efisien dan efektif karena auditor menggunakan metode management by exception.


 

MELAKUKAN PENILAIAN AWAL TERHADAP MATERIALITAS


 

        Materialitas mendasari penerapan standar auditing, khususnya standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Materialitas adalah besarnya kelalaian atau pernyataan yang salah pada informasi akuntansi yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.

        Dalam perencanaan audit, auditor menentukan materialitas pada dua tingkat:

  1. Materialitas Tingkat Laporan Keuangan

    Auditor menentukan materialitas pada tingkat laporan keuangan karena pendapat auditor tentang kewajaran adalah mengenai laporan keuangan secra keseluruhan dan tidak sepotong-potong.

  2. Materialitas Tingkat Saldo Akun

    Materialitas pada tingkat saldo akun sering disebut juga dengan tolerable misstatement. Tolerable misstatementadalah salah saji maksimum yang boleh ada dalam saldo akun sehingga tidak dianggap sebagai salah saji material.


 

MENILAI RISIKO AUDIT


 

        Risiko audit adalah risiko tidak diketahuinya kesalahan yang dapat mengubah pendapat auditor atas suatu laporan keuangan yang diaudit.

        Risiko audit terdiri atas tiga komponen, yaitu:

Risiko Bawaan (inherent risk)

Risiko bawaan adalah kerentanan atau mudah tidaknya suatu akun mengalami salah saji material dengan asumsi tidak ada kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait.

Risiko Pengendalian (control risk)

Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dideteksi ataupun dicegah secara tepat pada waktunya oleh berbagai kebijakan dan prosedur pengendalaian intern satuan usaha.

Risiko Deteksi (detection risk)

Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.


 

MENGEMBANGKAN STRATEGI AUDIT PENDAHULUAN UNTUK ASERSI YANG SIGNIFIKAN


 

        Tujuan auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan audit adalah untuk menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin untuk mendukung pendapat auditor mengenai kewajaran laporan keuangan.

        Ada dua alternatif strategi audit, yaitu:

Primarily Substantive Approach

Pada strategi ini auditor lebih mengutamakan pengujian substantif daripada pengujian pengendalian dalam strategi ini.

Lower Assessed Level of Control Risk Approach

Pada strategi ini auditor lebih mengutamakan pengujian pengendalian daripada pengujian substantif.


 

MENGHIMPUN PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN KLIEN


 

        Pemahaman struktur pengendalian intern, digunakan auditor untuk:

  1. Mengidentifikasi tipe salah saji potensial
  2. Mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi risiko salah saji material
  3. Merancang pengujian substantif


 

Struktur pengendalian intern terdiri atas tiga unsur, yaitu:

  1. Lingkungan pengendalian
  2. Sistem akuntansi
  3. Prosedur pengendalian


 

Struktur pengendalian intern yang efektif dirancang dengan tujuan pokok sebagai berikut:

  1. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi
  2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi
  3. Mendorong efisiensi
  4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen


 

Beberapa hal yang dapat dilakukan auditor pada tahap perencanaan (selain keenam tahap perencanaan tersebut):

  1. Menyusun program audit
  2. Menyusun jadwal kerja
  3. Menetukan staf pelaksana audit


 

MENYUSUN PROGRAM AUDIT


 

    Program audit merupakan daftar prosedur audit yang akan dilaksanakan oleh pekerja lapangan atau penghimpun bukti. Program audit meliputi sifat, luas, dan saat pekerjaan harus dilakukan. Program audit berfungsi sebagai:

  1. Petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan, dan intruksi bagaimana harus diselesaikan
  2. Alat unutk melakukan koordinasi, pengawasan, dan pengendalian audit
  3. Alat penilai kualitas kerja yang dilaksanakan


 

MENYUSUN JADWAL KERJA


 

    Jadwal kerja merupakan perencanaan mengenai kapan program audit dilaksanakan pada klien yang bersangkutan. Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan biasanya diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu:

  1. Kerja interim, dilaksanakan antara 6 bulan sebelum tanggal neraca sampai dengan tanggal neraca. Kerja interim berkaitan erat dengan penilaian auditor terhadap struktur pengendalian intern klien atau pengujian pengendalian.
  2. Kerja akhir tahun, yaitu pekerjaan audit yang dilaksanakan sejak tanggal neraca sampai dengan dua atau tiga bulan sesudahnya. Kerja ini berkaitan dengan verifikasi akun neraca atau pengujian substantif.


 

MENENTUKAN STAF UNTUK MELAKSANAKAN PEMERIKSAAN


 

    Penentuan staf ini merupakan akhir perencanaan audit. Dalam menentukan pemeriksa, auditor harus menetapkan komposisi, misalnya:

  1. Seorang partner yang bertanggung jawab secara keseluruhan atas pemeriksaan.
  2. Satu atau lebih manajer yang bertanggung jawab pada koordinasi dan supervisi pelaksanaan program audit.
  3. Satu atau lebih auditor senior yang bertanggung jawab pada bagian program audit, dan pengawasan kerja asisten.
  4. Akuntan Yunior atau asisten yang bertanggung jawab untuk melaksanakan prosedur audit.


 

PENGAWASAN/SUPERVISI AUDIT


 

    Perencanaan sebenarnya juga merupakan titik untuk melaksanakan pengawasan. Pengawasan yang baik adalah pengawasan yang dimulai sejak tahap perencanaan. Menurut Standar Auditing seksi 310, supervisi/pengawasan audit meliputi:

  1. Memerintahkan asisten untuk mencapai tujuan prosedur audit yang dilaksanakan.
  2. Menjaga informasi mengenai masalah penting yang diperoleh dari pelaksanaan prosedur audit.
  3. Meneliti/me-review hasil kerja yang dilakukan.
  4. Menangani perbedaan pendapat antar anggota staf pemeriksa.

Pengertian Auditor Independen

Apa itu auditor independen? apa bedanya dengan auditor independen?. mungkin itu pertanyaan yang kita dengar apabila baru mempelajari mata kuliah pengauditan. sebenarnya, auditor independen itu sama dengan auditor eksternal. Di dalam prakteknya, adanya auditor eksternal juga tidak dapat menjamin bahwa kondisi perusahaan adalah sehat karena hal itu bukan cakupan tugas dari auditor eksternal. Namun demikian auditor eksternal disini lebih berperan sebagai pihak independen yang dinilai berkompeten untuk menilai kualitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen. Dan atas penilaian ini auditor eksternal mengeluarkan opininya seperti wajar tanpa pengecualian, wajar dengan pengecualian, tidak wajar dengan pengecualian dan tidak berpendapat.

Untuk bisa melaksanakan proses audit eksternal yang baik harus terjalin saling percaya antara auditor dan manajemen. Pembicara menyebutkan sudah sering ditemukan kejadian dimana auditor eksternal menolak pekerjaan audit karena rendahnya level of trust pada manajemen.


Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah penetapan biaya audit eksternal yang benar-benar menjamin kualitas audit serta tidak membebani salah satu pihak baik manajemen maupun auditor eksternal. Dalam hal ini pembicara mengingatkan anggota komite audit untuk memperhatikan aturan perundang – undangan serta proses belajar atau adaptasi auditor ekternal terhadap perusahaan.


 

Sabtu, 16 Oktober 2010

Pengertian Strategi Audit Pendahuluan

    Tujuan auditor dalam perencanaan dan pelaksanan audit adalah untuk menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin umtuk mendukung pendapat auditor mengenai apakah laporan keuangan disajikan secara wajar dalam segala aspek yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Karena ada keterkaitan antara bukti materialitas dan komponen audit, maka auditor dapat memilih dua alternative strategi audit, yaitu:

  1. Primarily substantive approach
  2. Lower assessed level of control risk approach
Dalam memilih alternative strategi audit tersebut, auditor mempertimbangkan factor-faktor sebagai berikut:

  1. Planned assessed level of control risk
  2. Luas pemahaman auditor terhadp struktur pengendalian ntern yang dihimpun
  3. Test of control yang dilaksanakan dalam menentukan risiko pengendalian
  4. Planned assessed level of substantive test yang dilaksanakan auditor untuk mengurangi risiko audit pada tingkat serendah mungkin.
Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan (Planned assessed level of control risk) yang tinggi, berarti auditor mengangap bahwa struktur pengendalian intern klien adalah sangat efektif dan dapat mengurangi kemungkinan salah saji. Oleh karena itu, auditor harus menguji kebenaran anggapannya tersebut. Auditor lebih banyak melakukan pengujian pengendalian. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan (Planned assessed level of control risk) yang rendah, berarti auditor menganggap bahwa struktur pengendalian intern klien sangt tidak efektif dan tidak akan dapat mencegah terjadinya salah saji. Oleh karena itu, auditor kemudian menguji apakah salah saji yang tak terdeteksi oleh struktur pengendalian intern klien tersebut, dapat dideteksi oleh prosedur audit. Oleh karena itu, auditor melakukan pengujian substantive.

Luas pemahaman auditor terhadap struktur pengendalian internjuga mempengaruhi pemilihan strategi audit. Apabila auditor sangat memahami struktur pengendalian intern klien, maka auditor dapat memilih strategi audit Primarily substantive approach. Apabila auditor kurang memahami struktur pengendalian intern klien, maka auditor dapat memilih strategi audit Lower assessed level of control risk approach.

Strategi audit pendahuluan bukanlah merupakan spesifikasi rinci (detail) prosedu auditing. Strategi audit pendahuluan merupakan suatu judgement pendahuluan mengenai endekatan yang akan dipakai dalam melaksanakan audit.
 

Menghimpun Pemahaman Struktur Pengendalian Intern Klien

    Standar pekerjaan lapangan kedua menyatakan bahwa pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Oleh karena itu, auditor harus melaksanakan prosedur audit yang antara lain meliputi prosedur untuk memeperoleh pemahaman struktur pengendalian intern.

    Pemahaman struktur pengendalian intern, digunakan auditor untuk:

  1. Mengidentifikasi tipe salah saji potensial
  2. Mempertimbangkan factor yang mempengaruhi risiko salah saji material.
  3. Merancang pengujian substantive


    Struktur pengendalian intern terdiri atas tiga unsure, yaitu:

    1. Lingkungan pengendalian
    2. System akuntansi
    3. prosedur pengendalian
    struktur pengendalian intern yang efektif dirancang dengan tujuan pokok sebagai berikut:

    1. menjaga kekayaan dan catatan organisasi
    2. mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi
    3. mendorong efeisiensi
    4. mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen
tujuan yang pertama dn kedua dapat dipatuhi dengan pengendalian akuntansi yang baik. Tujuan keriga dan keempat dapat dipatuhi dengan pengendalian administrative yang baik. Disamping keenam tahap perencanaan tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan auditor pada tahap perencanaan, yaitu:

  1. menyusun program audit
  2. menyusun jadwal kerja
  3. menentukan staf pelaksana audit
Sudah mengerti kan? selamat Belajar!

Risiko Audit dan Komponen Risiko Audit

Kali ini, rubrik ekonomi akan membahas tentang Komponen Risiko Audit.

KOMPONEN RISIKO AUDIT

Komponen risiko audit, pada umumya terdiri atas tiga, yaitu:
  1. Risiko bawaan (inherent risk)
  2. Risiko pengendalian (control risk)
  3. Risiko deteksi (detection risk)
Risiko Bawaan

    Risiko bawaan adalah kerentanan suatu asersi terhadap salah saji material dengan asumsi tidak ada kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait. Risiko bawaan selalu ada dan tidak oernah mencapai angka nol. Risiko bawaan tidak dapat dirubah oleh penerapan prosedur audit yang paling baik sekalipun. Risiko bawaan bervariasi untuk setiap asersi. Sebagai contoh, asersi keberadaan dan keterjadian kas mempunyai risiko bawaan yang lebih tinggi daripada aktiva tetap. Hal inji disebabkan uang tunai merupakan suatu asset yang sangat rawan terhadap manipulasi, dan semua orang berminat terhadap uang. Sedangkan aktiva tetap lebih jelas keberadaannya. Risiko bawaan juga dibedakan atas risiko bawaan setiap akun dan risiko bawaan keseluruhan untuk banyak akun. Berikut merupakan beberapa factor yang menentukan risiko bawaan pada banyak akun:

  1. Profitabilitas perusahaan secara relative dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya. Semakin tinggi profitabilitas suatu perusahaan, semakin kecil risiko bawaannya.
  2. Jenis usaha dan sensitivitas operasi. Perusahaan yagn bergerak pada bidang keuangan lebih besar risiko bawaannya daripada perusahaan ekspedisi karena bidang keuangan sangat sensitive terhadap perubahan kurs mata uang, dan perubahan tingkat suku bunga. Oleh karena itu, semakin sensitive operasi perusahaan, semakin tinggi risiko bawaannya. Bidang usaha yang sangat dipengaruhi perkembangan teknologi, dan kompetiwsi usahanya ketat, mengakibatkan risiko bawaan yang tinggi.
  3. Masalah kelangsungan usaha. Perusahaan yang sedang mengalami masalah kebangkrutan mempunyai risiko bawaan yang tinggi.
  4. Sifat, penyebab, dan jumlah salah saji yang dideteksi dalam audit tahun sebelumnya. Risiko bawaan perusahaan akan dinilai lebih tinggi apabila banyak salah saji yang terdeteksi melalui audit tahun sebelumnya.
  5. Integritas, erputasi, dan pengetahuan akuntansi dari manajemen. Semakin baik integritas, reputasi, dan pengetahuan tentang akuntansi yang dimiliki manajemen klien, semakin kecil risiko bawannya.
Berikut ini merupakan factor yang menentukan risiko bawaan suatu akun tertentu:

  1. Auditabilitas akun atau transaksi. Semakin tinggi tingkat aktivitas akun, semakin rendah risiko bawaan pada akun tersebut.
  2. Kerumitan masalah akuntansi terkait. Masalah akuntansi terkait meliputi masalah pengekuan dan kerumitan penilaian akun. Masalah akuntansi yang rumit akan meningkatkan risiko audit.
  3. Sifat, penyebab, dan jumlah salah saji yang dideteksi dalam audit tahun sebelumnya. Risiko bawaan perusahaan akan dinilai lebih tinggi apabila banyak salah saji yang terdeteksi melalui audit tahun sebelumnya.


Risiko Pengendalian

    Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material, yang dapat terjadi dalam suatu asersi, tidak dapat dideteksi ataupun dicegah secara tepat pada waktunya oleh berbagai kebijakan dan prosedur struktur pengendalian intern perusahaan. Risiko pengendalian tidak pernah mencapai keyakinan penuh bahwa semua salah saji material akan dapat dideteksi ataupun dicegah. Risiko pengendalian merupakan fungsi dari efektivitas struktur pengendalian inter. Semakin efektif struktur pengendalian intern perusahaan klien, semakin kecil risiko pengendaliannya. Penetapan risiko pengendalian didasarkan atas kecukupan bukti audit yang menyatakan bahwa struktur pengendalian inter klien adalah efektif.

    Ada dua macam risiko pengendalian, yaitu:

  1. Actual level of control risk
  2. Assessed level of control risk yang ditentukan dengan melakukan modifikasi prosedur untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern terkait dengan asersi, dan prosedur untuk melaksanakan test of control.
Pada saat perencanaan audit, auditor menentukan besarnya risiko pengendalian yang direncanakan untuk setiap asersi yang signifikan. Planned assessed level of control risk ini ditentukan berdasar asumsi tentang efektivitas rancangan dan operasi struktur pengendalian intern yang relevan.



Risiko Deteksi

    Risiko deteksi merupakan risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi tergantung atas penerapan auditor terhadap risiko audit, risiko bawaan dan risiko pengendalian. Semakin besar risiko audit, semakin besar pula risiko deteksi. Sebaliknya semakin besar risiko bawaan ataupu risiko pengendalian, semakin kecil risiko deteksi. Pada tahap perencanaan audit, Planned assessed level of detection risk untuk setiap asersi signifikan ditentukan dengan cara menerapkan model risiko audit. Actual level of detection risk dapat diubah auditor dengan cara memodifikasi sifdat, penentuan waktu dan luas test substantive yang dilakukan atas suatu asersi. Dalam penentuan risiko deteksi, auditor mempertimbangkan kemungkinan dia melakukan kesalahan seperti kesalahan penerapan prosedur auditing atasu salah melakukan interpretasi terhadap bukti –bukti audit yang telah dihimpun.

Ada perbedaan yang mendasar antara risiko bawaan dan risiko pengendalian dengan risiko deteksi. Kedua risiko terdahulu ada terlepas dai dilakukan atau tidaknya audit atas laporan keuangan, sedangkan risiko deteksi berhubungan dengan prosedur audit dan padat diubah oleh keputusan auditor sendiri.selanjutnya, risiko deteksi terbagi atas dua jenis risiko, yaitu risiko review analitis, dan risiko tes substantive.

Risiko review analitis

Risiko review analitis adalah risiko yang timbul karena prosedur-prosedur review analitis tidak dapat mendeteksi kesalahan yang material.

Risiko tes substantive.

Risiko tes substantive adalah risiko kesalahan material tidak dapat dideteksi melalui penggunaan prosedur tes substantive.

Selain risiko-risiko diatas, risiko dalam audit dapat pula dibagi atas risiko sampling, dan risiko non sampling.jenis ini terjadi kaena auditor bekerja atas dasar pengujian suatu sampel bukti. Risiko sampling merupakan risiko bahwa kesimpulan yang diambil oleh auditor dari hasil pengujian terhadap karakteristik tertentu dari sampel atas item tertentu berbeda dengan kesimpulan yang dibuat dari seluruh populasi yang diuji. Sedangkan risiko non sampling merupakan bagian dari risiko audit yang tidak hanya berkaitan dengan data, tetapi lebih banyak dihasilkan dari factor lain seperti kesalahan manusia, kesalahan penerapan prosedur dan salah menginterpretasikan hasil suatu sampel.

Demikian dulu Pembahasan dari Rubrik ekonomi.
kalo ada pertanyaan, silakan ditanyakan, siapa tau bisa di jawab...