Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

POPULASI DAN SAMPEL DALAM METODE PENELITIAN BISNIS

Populasi


 

Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga (Mantra dan Kasto, 1989). Kuncoro menyebutkan (2003) populasi adalah sekelompok elemen yang lengkap yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian. Populasi dibedakan menjadi populasi sampling dan populasi sasaran. Untuk membedakan populasi sampling dengan populasi sasaran, dimisalkan peneliti mengambil rumah tangga sebagai sampel, sedangkan yang diteliti adalah anggota rumah tangga yang bekerja sebagai petani. Dalam hal ini seluruh rumah tangga di dalam wilayah penelitian adalah populasi sampling, sedangkan seluruh petani dalam wilayah penelitian disebut populasi sasaran. Contoh populasi lainnya adalah penduduk suatu kabupaten dalam periode waktu tertentu, mahasiswa yang mengikuti kelas metodologi penelitian sosial, penduduk dengan rentang umur tertentu, artikel tentang administrasi negara dalam periode waktu tertentu. Dari contoh populasi tersebut, kita selanjutnya dapat mengenali elemen dari masing-masing populasi, yaitu setiap anggota penduduk dari kabupaten dalam periode waktu tertentu, setiap mahasiswa yang mengikuti kelas metodologi penelitian sosial, setiap penduduk dengan rentang umur tertentu, dan setiap artikel tentang administrasi negara dalam periode waktu tertentu.

Untuk dapat mendefinisikan populasi dengan tepat, kita dapat dibantu dengan empat faktor yaitu isi, satuan, cakupan, dan waktu. Sebagai contoh penelitian mengenai produktivitas kerja karyawan hotel dan restaurant di Bali tahun 2000. Dari pendekatan empat faktor tersebut, maka populasi dari penelitian tersebut adalah semua karyawan yang bekerja di hotel dan restaurant di Bali tahun 2000.

Contoh Empat Faktor yang Membantu Mendefinisikan Populasi


 

Isi 

Semua Karyawan 

Satuan 

Yang bekerja di hotel dan restauran 

Cakupan 

Bali 

Waktu 

Tahun 2000 


 

Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi. Peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari suatu populasi jika populasi terlalu besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi tersebut. Suatu sampel harus representatif (mewakili) agar apa yang dipelajari dari sampel dapat diambil kesimpulannya dan digunakan untuk populasi.


 

Penelitian Berdasarkan Sampel dan Sensus

Penelitian yang bekerja dengan sampel, berarti hanya mengambil sebagian saja dari anggota populasi untuk dijadikan sebagai sampel dan selanjutnya berdasarkan analisis sampel dibuat generalisasi. faktor penting disini adalah generalisasi, artinya seberapa jauh simpulan dari analisis sampel dapat digeneralisasikan. Kemampuan generalisasi ini sangat tergantung dari besarnya sampel. Sampel yang representative (mewakili) memiliki kemampuan generalisasi.

Penelitian yang bekerja dengan sensus, tidak perlu menghadapi persoalan generalisasi. Peneliti terhindar dari sampling karena jumlah sampel yang diambil sama dengan jumlah anggota populasi. Pada penelitian sensus peneliti biasanya berhadapan dengan kendala biaya, waktu dan tenaga.


 

Kriteria Sampel yang Baik

Suatu pengambilan sampel yang ideal mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti.
  2. Dapat menentukan presisi dengan cara menentukan simpangan baku dari taksiran yang diperoleh.
  3. Sederhana hingga mudah dilaksanakan.
  4. Dapat memberikan keterangan sebanyak mungkin dengan biaya serendah-rendahnya.

Dalam menentukan metode pengambilan sampel dalam penelitian, peneliti harus benar-benar mempertimbangkan besarnya waktu, biaya, dan tenaga yang diperlukan dalam penelitian dengan presisi yang diharapkan dari hasil penelitian. Apabila jumlah biaya, tenaga, dan waktu telah dibatasi sejak semula, peneliti harus berupaya mendapatkan metode pengambilan sampel yang dapat menghasilkan presisi yang tertinggi.


 

Pertimbangan Penentuan Ukuran Sampel

Empat hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan besarnya sampel dalam suatu penelitian:

  1. Derajat keseragaman

Apabila populasi seragam sempurna, maka satu elementer saja dari seluruh populasi sudah cukup representatif untuk diteliti. Jika populasi adalah completely heterogeneous, maka hanya pencacahan lengkaplah dapat memberikan gambaran yang refresentatif.

  1. Presisi yang dikehendaki dalam penelitian

Tingkat ketepatan ditentukan oleh perbedaan perbedaan hasil sampel dengan hasil pencacahan lengkap, dengan asumsi instrumen, teknik wawancara, kualitas pewawancara yang digunakan sama. Secara kuantitatif presisi diukur dari standar error, makin kecil kesalahan baku, makin besar tingkat presisi.

  1. Rencana analisis

Rencana analisis data dengan teknik analisis tertentu sangat menentukan besarnya sampel yang harus diambil.

  1. Tergantung pada ketersediaan biaya, tenaga dan waktu.


 

Ukuran sampel

Berdasarkan atas petimbangan penentuan ukuran sampel. Peneliti dapat menentukan ukuran sampel yang dapat dipandang representatif mewakili populasi. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, maka makin besar kesalahan generalisasi. Selanjutnya berapakah jumlah sampel yang dipandang representatif mewakili populasi? Jawabannya tergantung pada tingkat presisi yang dikehendaki. Presisi yang dikehendaki dapat dipresentasikan dari derajat kesalahan secara statistic apakah 1%, 5%, atau 10%. Semakin tinggi presisi yang dikehendaki, semakin kecil tingkat kesalahan yang harus ditentukan. Derajat kesalahan 1% memiliki presisi lebih tinggi daripada derajat kesalahan 5% atau 10%. Rumus yang dikembangkan Isaac dan Michael (sugiyono,2000; mantra, 2003) untuk menentukan besarnya sampel berdasarkan tingkat kesalahan yang ditoleransi 1%, 5%, dan 10%.


 

Sumber Kesalahan sampel

  1. Sampling frame error

    Adalah kesalahan yang terjadi bila elemen sampel tertentu tidak diperhitungkan, atau bila seluruh populasi tidak diwakili secara tepat oleh kerangka sampel.

  2. Random sampling error

    Adalah kesalahan akibat adanya perbedaan antara hasil sampel dan hasil sensus yang dilakukan dengan prosedur yang sama. Kesalahan ini dapat terjasi karena fluktuasi statistik yang terjsi karena variasi peluang dalam elemen sampel yang dipilih. Cara memperkecilnya adalah dengan meningkatkan jumlah sampel. Semakin banyak sampel yang diambil, maka kesalahan sampel akan semakin menurun.

  3. Nonresponse error

    Adalah kesalahan akibat perbedaan statistik antara survei yang hanya memasukkan mereka yang merespon dan tidak mereka yang gagal merespon. Penyimpangan ini terjadi akibat beberapa hal, yaitu :

  • Kesalahan perencanaan, seperti tidak tepatnya pemakaian definisi, kriteria, satuan-satuan ukuran, dan lain-lain.
  • Penggantian sampel.
  • Salah tafsir petugas maupun responden.
  • Salah tafsir responden
  • Responden sengaja salah menjawabnya.
  • Kesalahan dalam pengolahan data dan penerbitannya.

Penyimpangan yang terjadi karena kesalahan sampel dan kesalahan nonsampel disebut kesalahan total. Kesalahan sampel dapat diperkecil dengan pemakaian metode pengambilan sampel yang tepat, sedangkan kesalahan nonsampel dapat diperkecil dengan perencanaan dan pelaksanaan yang diteliti dari penelitian yang bersangkutan.


 

Tahap Pemilihan Sampel

Setelah jumlah sampel yang representatif dapat ditentukan, langkah selanjutnya adalah pemilihan sampel. Sebelum dilakukan pemilihan sampel dengan terlebih dahulu perlu dipahami mengenai unsure sampling dan kerangka sampling. Dalam suatu populasi unsure-unsur atau elemen yang diambil sebagai sampel disebut unsure sampling. Unsur sampling diambil dengan menggunakan kerangka sampling. Kerangka sampel (Sample Frame) adalah representasi fisik dari objek, individu, kelompok yang sangat penting dalam penentuan sampel. Kerangka sampling merupakan daftar semua unsure sampling dalam populasi sampling.

Sebuah kerangka sampling yang baik harus memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Harus meliputi seluruh unsure sampel (tidak satupun yang tertinggal)
  2. Tidak ada unsure sampel yang dihitung dua kali
  3. Harus up to date
  4. Batas-batasannya harus jelas (siapa-siapa yang menjadi anggota rumah tangga)
  5. Harus dapat dilacak di lapangan (Mantra dan Kasto, 1989, Mantra, 2003)

Tahap Proses Pemilihan Sampel, meliputi:

  1. Penentuan Populasi: menentukan apa yang menjadi elemen populasi (individu, organisasi, produk)
  2. Penentuan Unit Pemilihan Sampel: menentukan kelompok-kelompok elemen berdasarkan desain sampel yang digunakan.
  3. Penentuan Kerangka Pemilihan Sampel: menentukan daftar elemen dari setiap unit pemilihan sampel.
  4. Penentuan Desain Sampel: menentukan teknik sampling yang digunakan (probability sampling atau non probability sampling)
  5. Penentuan Jumlah Sampel: menentukan jumlah atau besarnya sampel yang digunakan dalam penelitian.
  6. Pemilihan Sampel: menentukan elemen yang akan menjadi sampel dari penelitian yang dilakukan.


 

Metode Pengambilan Sampel

Probability sampling merupakan cara pengambilan sampel secara random atau acak yang dapat dilakukan dengan bilangan random, computer, maupun dengan undian. Bila pengambilan dilakukan dengan undian, maka setiap anggota populasi diberi nomor terlebih dulu sesuai dengan jumlah anggota populasi. Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.


 


 

LANDASAN TEORIDAN PENGAJUAN HIPOTESIS

  1. DESKRIPSI TEORI

    Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variable yang diteliti.

    Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indicator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak.

    Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk (sumadi suryabrata, 1996). Sumber-sumber bacaan dapat berbentuk buku-buku teks, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah dan hasil-hasil penelitian. Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga criteria, yaitu relevansi, kelengkapan, dan kemutakhiran (kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama). Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara variable yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir teori.

    Hasil penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan dengan apa yang akan diteliti dapat dilihat dari: permasalahan yang diteliti, waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian, analisis, dan kesimpulan.

  1. LANGKAH-LANGKAH MENDESKRIPSIKAN TEORI

    Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan nama variable yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
  2. Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti.
  4. Cari definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topic buku yang sesuai dengan variable yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.


 

  1. KERANGKA BERFIKIR

    Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

    Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variable yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryolo, 1999). Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (Suriasumantri, 1986).

  1. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN KERANGKA BERFIKIR

    Proses kerangka berfikir untuk merumuskan hipotesis memerlukan 6 (enam) langkah (Sugiyono, 2000) sebagai berikut:

  1. Menetapkan variabel yang diteliti
  2. Membaca buku dan hasil penelitian
  3. Mendiskripsikan teori dan hasil penelitian
  4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
  5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
  6. Sintesa atau kesimpulan

Sekaran (1996) menyebutkan, suatu kerangka berfikir yang baik memuat hal-hal:

  1. Variabel-variabel yang diteliti harus dijelaskan.
  2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan atau hubungan antar variabel yang diteliti dan atau teori yang mendasari.
  3. Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausal atau timbal balik.
  4. Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berfikir yang dikemukakan dalam penelitian.
  1. PENGERTIAN DAN BENTUK-BENTUK HIPOTESIS

Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada kualitatif tidak merumuskan hipotesis tetapi justru menemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis, tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

Dalam hal ini perlu di bedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengertian hipotesis penelitian seperti telah dikemukakan diatas. Selanjutnya, hipotesis statistik itu ada, bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel maka tidak ada hipotesis statistik.

Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja adalah kalimat positif dan hipotesis nol adalah kalimat negatif. Dalam statistik juga terdapat dua macam hipotesis yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternatif .dalam kegiatan penelitian, yang diuji terlebih dahulu adalah hipotesis penelitian terutama pada hipotesis kerjanya. Bila penelitian akan membuktikan hasil pengujian hipotesis itu signifikan atau tidak, maka diperlukan hipotesis statistik. Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis statistik ini adalah statistik inferensial. Statistik yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.

Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol, karena penelitian tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter. Parameter adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan populasi, dan statistik disini ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.

Bentuk-bentuk Hipotesis

    Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu : rumusan masalah deskriptif, komnparatif, dan asosiatif. Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiasi/ hubungan.

  1. Hipotesis Deskriptif

    Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

  2. Hipotesis Komparatif

    Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

  3. Hipotesis Asosiatif

    Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

  1. MERUMUSKAN HIPOTESIS

Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah, dan Hipótesis    

    Pada paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis.

    Pada setiap paradigma penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian, yaitu masalah deskriptif. Berikut ini contoh judul penelitian, paradigma, rumusan masalah dan hipotesis penelitian.

Judul Penelitian

    Hubungan antara gaya kepemimpinan manager perusahaan dengan prestasi kerja karyawan.

Gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan prestasi keja adalah variabel dependen (Y).


 

Paradigma Penelitian


 


 


 


 

Rumusan Masalah

  1. Seberapa baik gaya kepemimpinan manajer yang ditampilkan? (bagaimana X?)
  2. Seberapa baik prestasi kerja karyawan ? (adakah hubungan antara X dan Y?). a dan b adalah masalah deskriptif
  3. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manajer dan prestasi kerja karyawan? (adakah hubungan antara X dan Y?). Butir ini merupakan masalah asosiatif.
  4. bila sampel penelitiannya golongan I,II dan III, maka rumusan masalah komparatifnya adalah :
    1. Adakah perbedaan persepsi antara karyawan Golongan I,II, dan III tentang gaya kepemimpinan manajer?
    2. Adakah perbedaan persepsi antara pegawai golongan I, II, dan III tentang prestasi kerja karyawan?

Rumusan hipotesis penelitian

  1. Gaya kepemimpinan yang ditampilkan manajer (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainya paling tinggi 60 % dari kriteria yang diharapkan.
  2. Prestasi kerja karyawan (Y) kurang memuaskan, dan nilainya paling tinggi 65%.
  3. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan. manajer dengan prestasi kerja karyawan, artinya makin baik kepemimpinan manajer, maka akan semakin baik prestasi kerja karyawan.
  4. Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara gol. I, II dan III.
  5. Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara gol. I,II dan III.

    Untuk bisa diuji dengan statistik, maka data yang akan didapatkan harus diangkakan. Untuk bisa diangkakan, maka diperlukan instrumen yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul di atas ada dua instrumen, yaitu instrumen gaya kepemimpinan dan prestasi kerja pegawai.

    Untuk judul penelitian yang berisi dua independen variabel atau lebih, rumusan masalah penelitiannya akan lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya dan di bagian analisis data.

Karakteristik Hipotesis yang Baik

  1. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan.
  2. Dinayatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
  3. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah