Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Manajemen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Oktober 2010

PERHITUNGAN BIAYA VARIABEL DAN PERHITUNGAN BIAYA ABSORPSI

Perhitungn biya variable menekankan perbedaan antara biaya manufaktur variable dan tetap. Perhitungan biaya variable
(variable costing) membebankan hanya biaya manufaktur variabwl ke produk. Biaya ini meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variable. Overead tetap diperlakukan sebagai beban periode dan tidak disertakan dalam penentuan biaya produk. Dasar pemikiran untuk ini adalah bahwa overhead tetap merupakan biaya kapasitas, atau tetap ada dalam bisnis. Perhitungan biaya absorpsi (absorption costing) membebankan semua biaya manufaktur ke produk. Bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Jadi, menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk. Bukan biaya periode. Menurut metode ini, overhead tetap yang ditetapkan terlebih dulu dan tidak dibebankan sampa produk terjual. Dengan kata lain overhead tetap adalah biaya sebagai biaya prosuk atau periode menurut perhitungan biaya variable dan absorpsi. Akhir-akhr ini, perhitungan biaya absorpsi diisyaratkan untuk keperluan pelaporan eksternal.


 

Klasifikasi biaya sebagai biaya produk atau periode menurut perhitungn biaya variable dan absorpsi

 

PERHITUNGAN BIAYA ABSORPSI 

PERHITUNGAN BIAYA VARIABEL 

BIAYA PRODUK 

Bahan baku langsung

Tenaga kerja langsung Overhead variable

Overhead tetap

Bahan baku langsung

Tenaga kerja langsung

Overhead variabel 

BIAYA PERIODE 

Beban penjualan

Beban administratif 

Overhead tetap

Beban penjualan

Beban administratif 


 


 


 

PENILAIAN PERSEDIAAN

Metode perhitungan buaya produk yang berbeda akan mempengaruhi nilai barang yang tersimpan dalam persediaan. Perhitungan biaya variable hanya menginventari


 

LAPORAN LABA RUGI DAN ANALISIS REKONSILIASI

Karena biaya produk per unit merupakan dasar bagi penghitungan harga pokok penjualan, maka metode perhitungan biaya variable dan absorpsi dapat mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Perbedaan terjadi karena jumlah overhead tetap yang diakui sebagai beban pada kedua metode tersebut.


 

Hubungan antara produksi, penjualan dan laba

Hubungan laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungn biaya absorpsi berubah ketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah. Apabila barang yang terjual lebih banyak dari yang diproduksi, maka laba menurut perhitungan biaya variable akan lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi. Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit-unit yang keluar dari persediaan mengandung overhead tetap dari periode sebelumnya selain itu, unit-unit yang diproduksi dan dijual telah mengandung seluruh overhead tetap periode berjalan. Dengan demikian, jumlah beban overhead tetap menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar dari biaya overhead tetap periode berjalan sejumlah overhead tetap yang keluar dari persediaan. Oleh karenaitu, laba menurut perhitungan biaya variable lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi karena sejumlah overhead tetap mengalir keluar dari perssediaan awal.


 

Hubungan antara produksi, penjualan dan laba

 

JIKA 

MAKA 

Produksi > Penjualan 

Laba bersih Absorpsi > Laba bersih Variabel 

Produksi < Penjualan 

Laba bersih Absorpsi < Laba bersih Variabel 

Produksi= Penjualan 

Laba bersih Absorpsi = Laba bersih Variabel 


 

Kunci untuk menjelaskan perbedaan di antara kedua laba tersebut adalah analisis arus overhead tetap. Perhitungan biaya variable selslu mengakui total overhead tetap periode sebagai beban. Di pihak lain, perhitungn biaya absorpsi hanya mengakui overhead tatap yang ada pada unit yang terjual. Apabila jumlah yang diproduksi berbeda dari yang terjual, overhead tetap akan mengalir ke luar atau kedalam persediaan. Apabila jumlah overhead tetap dalam persediaan meningkat, maka laba menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar daripada laba menurut perhitungn biaya varibel dengan menghitug kenaikan bersih. Apabila overhead tetap persediaan berkurang, maka laba menurut perhitungn biaya variable lebih besar daripada laba menurut perhtungan biaya absorpsi. Perubahan dalam overhead tetap dala persediaan adalah tetap sama dengan selisih di antara kedua laba. Perubahan ini dapat dihtung melalui perkalian tariff overhead tetap dengan perubahan total unit persediaan awal dan akhir (yang merupakan selisih antara produksi dan penjualan). Selisih antara laba bersih menurut perhitungan biaya absorpsi dan perhitungan biaya variable dapat dinyatakan sebagai berikut:


 

Laba menurut perhitungan biaya absorpsi – laba menurut perhitungan biaya variabel = tarif overhead tetap x (unit yang diproduksi – unit yang terjual)

Konsep Desentralisasi dan Sistem Akuntansi Pertanggungjawaban

KONSEP DESENTRALISASI

        Perusahaan yang terdesentralisasi di Negara asal sering memberlakukan pengawasan yang lebih ketat pada divisi asing, paling tidak hingga mereka mendapat pengalaman yang lebih banyak tentang operasional mereka di luar negri.

        Desentralisasi menawarkan keunggulan-keunggulan bagi divisi –divisi di Negara asal, dan keunggulan bagi divisi asing. Persaingan dalam memperebutkan pasar pembeli, dibuka seluas-luasnya. Kompetisi benar-benar tidak ditahan-tahan lagi oleh pemerintah negara setempat. Dengan sendirinya, pertumbuhan ekonomi adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, hasil akhirnya adalah, siapa yang memiliki modal dan sumber daya besar, hampir dapat dipastikan memenangi pasar. Kalau sudah seperti ini, akan ada sebagian konsumen/pembeli yang bisa jadi justru tidak terlayani oleh produsen/pedagang yang mencoba mengekspansi besar-besaran perusahaannya. Dan sebagian konsumen/pembeli tersebut tidak dilindungi oleh pemerintah.

        Desentralisasi yang dianggap sebagai jalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi telah menarik perhatian dari banyak ahli, antara lain dikemukakan  oleh  Tiebout,  Oates,  Tresch,  Breton,  Weingast,  dan  sebagaimana dikutip oleh Litvack et al dalam Sidik (2002) yang mengatakan bahwa pelayanan publik yang paling efisien seharusnya diselenggarakan oleh wilayah yang memiliki kontrol geografis yang paling minimum.


 

Desentralisasi adalah paket delegasi kewenangan pengambilan keputusan kepada jenjang yang lebih rendah. Alasan-alasan untuk melakukan desentralisasi adalah sebagai berikut:

  1. Mengumpulkan Dan Menggunakan Informasi Lokal

    Kualitas keputusan dipengaruhi oleh kualitas informasi yang tersedia.sejalan dengan pertumbuhan pertumbuhan persahaan dan penambahan operasi dipasar dan area yang berbeda , manajer pusat mungkin tidak memahami kondisi local.

  2. Memfokuskan Manajemen Pusat

    Dengan mendesentralisasikan keputusan-keputusan operasional, manajemen pusat bebas menangani perencanaan dan pengambilan keputusan strategis.

  3. Melatih Dan Memotivasi Para Manajer

    Organisasi selalu membutuhkan manajer yang terlatih untuk menggantikan posisi manajer jenjang yang lebih tinggi yang keluar untuk mengambil keuntungan dari peluang yang lain.

  4. Meningkatkan Daya Saing

    Pada perusahaan yang sangat tersentralisasi, margin laba secara keseluruhan dapat menutupi ketidakefisienan yang terjadi diberbagai divisinya.


     

PENGERTIAN SISTEM AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN

    Sistem akuntansi pertanggung jawaban adalah sistem yang mengukur berbgai hasil yang dicapai setiap pusat pertanggungjawaban menurut informasi yang dibutuhkan para manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka. Idealnya system akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan dan mendukung struktur dari sebuah organisasi


 

PUSAT-PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN

        Sistem akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting system) adalah sistem yang mengukur berbagai hasil yang dapat dicapai setiap pusat pertanggungjawaban mereka. Idealnya, system akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan dan mendukung struktur dari sebuah organisasi. Perusahaan yang memiliki beberapa pusat pertanggungjawaban biasanya memilih salah satu dari dua pendekatan pengambilan keputusan untuk emngelola kegiatan mereka yang rumit dan beragam: terdesentralisasi atau tersentralisasi.

        Pada pengambilan keputusan tersentralisasi, berbagai keputusan dibuat pada tingkat manajemen puncak dan manajer jenjang yang lebih rendah bertanggung jawab atas pengimplementasian keputusan-keputusan tersebut. Di lain pihak, pengambilan keputusan terdesentralisasi memperkenankan manajer pada jenjang yang lebih rendah untuk membuat dan mengimplementasikan keputusan penting yang berkaitan dengan wilayah pertanggung jawaban mereka.

        Pusat pertanggungjawaban (responsibility center) merupakan salah satu segmen bisnis yang manajernya bertanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu. Hasil-hasil dari setiap pusat pertanggungjawaban bisa diukur berdasarkan informasi yang dibutuhkan manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban mereka. Berikut jenis utama pusat pertanggungjawaban:

  • Pusat biaya (cost center) – manajernya bertanggung jawab hanya terhadap biaya.
  • Pusat pendapatan (revenue center) – manajernya bertanggung jawab hanya terhadap penjualan.
  • Pusat laba (profit center) - bertanggung jawab terhadap penjualan dan biaya.
  • Pusat investasi (investment center) - manajernya bertanggung jawab terhadap penjualan, biaya, dan investasi modal.


 

        Cara pusat-pusat pertanggungjawaban dibebankan mencerminkan situasi actual dan jenis informasi yang tersedia bagi manajer. Informasi adalah kunci bagi para manajer yang bertanggung jawab pada hasil-hasilnya. Sebagai contoh, manajer Departemen Produksi bertanggung jawab atas biaya departemen, tetapi tidak untuk penjualan. Hal tersebut dikarenakan manajer Departemen Produksi tidak hanya mengendalikan beberapa biaya ini secara langsung, tetapi juga mengetahui dan memahaminya. Perbedaan antara biaya actual dan biaya yang diharapkan paling baik dijelaskan pada tingkat ini.


 

PENILAIAN KINERJA PERTANGGUNGJAWABAN

Dalam akuntansi pertanggungjawaban, laporan kinerja-kinerja disusun untuk departemen-departemen, segmen-segmen dari departemen-departemen, atau pengelompokan dari departemen yang berperasi di bawah kendali dan otoritas manajer ysng bertanggung jawab. Terdapat tiga jenis pusat pertanggungjawaban yaitu: pusat biaya, pusat laba, dan pusat investasi. Setiap jenis pusat pertanggungjawaban menyatakan secara tidak langsung pembagian hak-hak keputusan dan memiliki system pengukuran kinerja yang berlainan.

  1. Pusat biaya

    Kinerja pusat biaya diukur berdasarkan efisiensi dan mutu. Walaupun demikian minimalisasi mungkin saja dilakukan dengan mengorbankan mutu dan volume produksi sehingga mengakibatkan tidak adanya keharmonisan dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Untuk menanggulangi hal ini perlu ditetapkan jenis dan banyaknya produksi yang dikehendaki serta standar mutu yang diisyaratkan.

  2. Pusat Laba

    Pusat laba adalah pusat pertangungjawaban dimana kinerja keuangan diukur dari segi labanya, yang merupakan perbedaan antara pendapatan dan beban. Pendapatan adalah ukuran moneter dari keluaran-keluaran, sedangkan beban adalah ukuran moneter dari masukan-masukan atau sumber daya yang dikonsumsi. Dalam rangka mengevaluasi kinerja, ukuran-ukuran efisinsi dan efektivitas haruslah dipertimbangkan karena manajer bertanggung jawab atas kinerja pendapatan dan biaya segmen. Manajer pusat laba memakai analisis marjin konttribusi, biaya standar, anggaran fleksibel, dan selisih penjualan untuk mengendalian laba.

  3. Pusat Investasi

    Dalam pusat investasi, manajer memiliki tanggung jawab dan otoritas atas pengambilan keputusan-keputusan yang mempengaruhi tidak hanya biaya dan pendapatan saja, tetapi juga asset yang diinvestasikan dalam pusat pertanggungjawaban. Manajer bertanggung jawab atas perolehan laba yang memadai dan pemilihan asset operasi yang dibutuhkan untuk mencapai laba itu. Ukuran efisiensi dan efektivitas dipakai untuk megevaluasi kinerja pusat investasi dengan fokus utamanya diarahkan pada imbalan investasi actual yang dicapai dibandingkan dengan imbalan investasi yang dianggarkan.

Penentuan Harga Transfer dan Pengaruhnya Terhadap Laba

Masalah penentuan harga transfer dijumpai dalam perusahaan yang organisasinya disusun menurut pusat-pusat laba, dan antar pusat laba yang dibentuk tersebut terjadi transfer barang atau jasa. Perusahaan yang mengalami perkembangan pesat dalam bisnisnya, seringkali menempuh diversifikasi usahanya untuk memasuki berbagai pasar. Diversifikasi merupakan suatu usaha manajemen puncak untuk menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi dalam menghadapi teknologi dan lingkungan bisnis yang semakin kompleks. Semakin luas proses diversifikasi yang dilakukan oleh manajemen puncak, semakin diperlukan berbagai alat untuk mengintegrasikan unit-unit organisasi yang telah dibentuk. Harga transfer merupakan salah satu alat untuk menciptakan mekanisme integrasi dalam perusahaan yang mendiversifikasi bisnisnya.

Diversifikasi bisnis dilakukan dengan membentuk pusat-pusat laba. Proses pembentukan pusat-pusat laba disebut dengan divisionalisasi. Divisionalisasi tidak selalu diikuti dengan desentralisasi wewenang manajemen puncak kepada para manajer divisi yang dibentuk. Divisionalisasi yang diikuti dengan desentralisasi wewenang manajemen puncak akan mengakibatkan divisi-divisi seolah-olah sebagai perusahaan yang bebas (independent companies) yang diukur kinerjanya berdasarkan laba yang diperoleh divisi. Harga transfer mempunyai peran ganda. Di satu sisi, harga transfer mempertegas diversifikasi yang dilakukan oleh manajemen puncak. Harga transfer menetepkan dengan tegas hak masing-masing manajer divisi untuk mendapatkan laba. Di sisi lain, harga transfer berperan sebagai salah satu alat untuk menciptakan mekanisme integrasi. Dengan kebijakan ini, manajer divisi dipaksa untuk merundingkan harga transfer yang adil bagi semua divisi yang terlibat, sehingga dua atau lebih divisi yang terpisah perlu melakukan hubungan dalam mencapai tujuan perusahaan bersama.

Dalam arti sempit harga transfer merupakan harga barang dan jasa yang ditransfer antar pusat laba dalam perusahaan yang sama. Karena manajer pusat laba diukur kinerjanya berdasarkan laba yang diperoleh, maka setiap transfer barang atau jasa antar pusat laba, selalu diperhitungkan di dalamnya unsur laba.

Karakteristik harga transfer:
Jika antar pusat laba dalam suatu perusahaan membeli dan menjual barang, ada dua macam keputusan yang harus di buat.

  1. Keputusan pemilihan sumber. Keputusan pertama yang harus dibuat adalah penentuan dimana produk harus diproduksi, yaitu diproduksi di dalam perusahaan atau dibeli dari pemasok luar. Keputusan ini disebut dengan istilah lain sourcing decision.
  2. Keputusan penentuan harga transfer. Jika produk diproduksi di dalam perusahaan, keputusan berikutnya yang harus dibuat adalah pada harga transfer berapa produk tersebut ditransfer dari divisi penjual ke divisi pembeli. Keputusan ini dikenal dengan istilah lain transfer pricing decision.

Dalam penentuan harga transfer ada dua divisi yang terlibat: divisi penjual, yang mentransfer barang atau jasa dan divisi pembeli, yang menerima transfer barang atau jasa dari divisi penjual. Dari dua konsep harga transfer di atas, penetuan harga transfer yang memiliki potensi untuk menimbulkan banyak masalah adalah penentuan harga transfer barang antardivisi sebagai pusat laba.

Harga transfer pada hakikatnya memiliki tiga karakteristik berikut ini:

  1. Masalah harga transfer hanya timbul jika divisi yang terkait diukur kinerjanya berdasarkan atas laba yang diperoleh mereka dan harga transfer merupakan unsur yang signifikan dalam membentuk biaya penuh produk yang diproduksi di divisi pembeli.
  2. Harga transfer selalu mengandung unsur laba di dalamnya.
  3. Harga transfer merupakan alat untuk mempertegas diversifikasi dan sekaligus mengintegrasikan divisi yang dibentuk.

Masalah yang dirundingkan dalam penentuan harga transfer
Karena setiap divisi yang dibentuk perusahaan diukur kinerjanya atas dasar laba yang diperoleh masing-masing, maka dua masalah yang selalu dirundingkan oleh divisi penjual dan divisi pembeli adalah:

  1. Dasar yang digunakan sebagai landasan penentuan harga transfer. Dalam penentuan harga transfer, divisi pembeli dan divisi penjual harus menyepakati dasar yang akan dipakai sebagai landasan penentuan harga transfer: biaya dan harga pasar. Biaya yang dipakai sebagai dasar penentuan harga transfer adalah biaya penuh: biaya penuh sesungguhnya dan biaya penuh standar.
  2. Besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer. Dua factor yang harus dirundingkan antara divisi penjual dengan divisi pembeli dalam menentukan besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer adalah:
  • Dasar yang digunakan untuk menentukan laba yang diperhitungkan dalam harga transfer.
  • Besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer.

Laba yang diperhitungkan dalam harga transfer dapat ditentukan berdasarkan persentase tertentu dari biaya penuh atau berdasarkan aktiva penuh yang digunakan untuk memproduksi produk. Jika laba ditentukan sebesar persentase tertentu dari biaya penuh, harga transfer yang dihasilkan tidak memperhitungkan modal yang diperlukan dalam memproduksi produk yang ditransfer. Aktiva penuh merupakan dasar yang baik untuk memperhitungkan laba dalam harga transfer, namun banyak masalah yang timbul dalam memperhitungkan aktiva penuh sebagai investment base. Jika aktiva penuh divisi dipakai sebagai dasar penentuan laba yang diperhitungkan dalam harga transfer, dua factor yang harus dipertimbangkan adalah:

  1. Jenis aktiva yang diperhitungkan sebagai dasar.
  2. Cara penilaian aktiva yang digunakan sebagai dasar

Jenis aktiva yang diperhitungkan sebagai dasar penentuan laba dalam harga transfer dapat digolongkan menjadi dua kelompok: aktiva lancar dan aktiva tidak lancar. Jenis aktiva yang diperhitungkan dalam aktiva lancar divisi penjual adalah aktiva lancar yang digunakan untuk operasi divisi penjual. Dengan demikian investasi sementara dalam surat berharga tidak diperhitungkan sebagai aktiva yang dipakai sebagai dasar penentuan laba dalam harga transfer. Begitu pula dengan investasi jangka panjang divisi penjual tidak diperhitungkan dalam aktiva tidak lancar yang dipakai sebagai dasar penentuan laba dalam harga transfer.

Aktiva tetap yang diperhitungkan sebagai dasar penentuan laba dalam harga transfer adalah kondisi aktiva tetap divisi penjual pada awal tahun berlakunya harga transfer. Jika dalam tahun berjalan, divisi penjual melakukan investasi dalam aktiva tetap, jumlah investasi ini biasanya diperhitungkan dalam penentuan harga transfer tahun berikutnya. Begitu pula jika dalam tahun berjalan divisi penjual melakukan penghentian pemakaian aktiva tetapnya, perubahan ini baru diperhitungkan dalam penentuan harga transfer tahun berikutnya.

Dalam penentuan harga transfer berdasarkan biaya, terdapat berbagai pilihan tipe biaya yang digunakan sebagai dasar: biaya sesungguhnya atau biaya standar. Tipe biaya manapun yang dipilih, biaya penuh yang dipakai sebagai dasar penentuan harga transfer dapat direkayasa dengan salah satu dari tiga metode biaya: full costing, variable costing, activity based costing.

Dalam penentuan harga transfer berdasarkan harga pasar, harga transfer dihitung dengan menggunakan metode harga pasar minus. Harga yang berlaku di pasar dikurangi dengan potongan volume dan berbagai biaya yang dapat dihindari oleh divisi penjual untuk mendapatkan harga barang atau jasa yang ditransfer dari divisi penjual ke divisi pembeli. Jika produk yang ditransfer memiliki harga pasar, harga pasar produk merupakan biaya kesempatan baik bagi divisi penjual maupun bagi divisi pembeli, sehingga harga tersebut merupakan dasar yang adil sebagai dasar penentuan harga transfer bagi divisi yang terlibat.

Karena penentuan harga transfer memerlukan proses negosiasi antar manajer divisi yang terlibat, perlu dibuat aturan negosiasi, sehingga masing-masing manajer menggunakan dasar yang sama untuk membahas berbagai unsur yang akan diperhitungkan dalam harga transfer. Di samping itu, karena terdapat kemungkinan terjadinya perselisihan pendapat antar manajer divisi yang terlibat, perlu dibentuk lembaga arbitrase untuk memberi kesempatan kepada para manajer tersebut untuk mengajukan dan menyelesaikan berbagai perbedaan yang tidak dapat mereka selesaikan dalam proses negosiasi.


 

Konsep Break Event Poit (BEP) dan Pengaplikasiannya

Titik Impas (BEP) dalam Unit

    Dimulai dengan menentukan titik impas perusahaan dalam jumlah unit yang terjual, maka kita dapat mengetahui bagaimana pendapatan, beban, dan laba berperilaku ketika volume berubah. Titik impas (break-even point) adalah titik dimana total pendapatan sama dengan total biaya (titik dimana laba sama dengan nol atau tidak laba tidak rugi). Untuk menemukan titik impas dalam unit, kita memfokuskan pada laba operasi. Pertama kita akan membahas cara untuk menentukan titik impas, dan kemudian melihat bagaimana pendekatan kita dapat dikembangkan untuk menentukan jumlah unit yang harus dijual guna menghasilkan laba yang ditargetkan.

Keputusan awal perusahaan dalam mengimplementasikan pendekatan unit yang terjual pada analisis biaya-volume-laba (cost-volume-profit analysis/ CPV) adalah menentukan apa yang dimaksud dengan sebuah unit. Keputusan kedua terpusat pada pemisahan biaya menjadi komponen tetap dan variabel.


 

Penggunaan Laba Operasi dalam Analisis CVP

    Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biaya-biaya perusahaan ke dalam kategori tetap dan variabel. Laporan laba rugi dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:


 

    Laba operasi = Pendapatan penjualan – Beban variabel – Beban tetap


 

    Laba operasi (operating income) hanya mencakup pendapatan dan beban dari operasional normal perusahaan. Istilah laba bersih (net income) digunakan untuk menyatakan hasil dari laba operasi dikurangi pajak penghasilan.

    Setelah memiliki ukuran unit yang terjual, kita dapat mengembangkan persamaan laba operasi dengan menyatakan pendapatan penjualan dan beban variabel dalam jumlah unit dolar dan jumlah unit. Pendapatan penjualan dinyatakan sebagai harga jual per unit dikali jumlah unit yang terjual dan total biaya variabel adalah biaya variabel per unit dikali jumlah unit yang terjual, maka persamaan laba operasi menjadi:


 

Laba operasi = (Harga x Jumlah unit terjual) – (Biaya variabel per unit x

Jumlah unit terjual) – Total biaya tetap


 

Sebuah keunggulan penting dari pendekatan laba operasi adalah bahwa seluruh persamaan CPV berikutnya diturunkan dari laporan laba rugi menurut perhitungan biaya variabel. Jadi untuk memecahkan setiap persoalan CVP dapat menggunakan pendekatan ini.


 

Jalan Pintas untuk Menghitung Unit Impas

    Untuk lebih cepat menghitung unit impas, kita dapat memfokuskan pada margin kontribusi. Margin kontribusi (contribution margin) adalah pendapatan penjualan dikurangi total biaya veriabel. Pada impas, margin kontribusi sama dengan beban tetap. Apabila kita mengganti margin kontribusi per unit untuk harga dikurangi biaya variabel per unit pada persamaan laba operasi dan memperoleh jumlah unit, maka kita mendapatkan persamaan dasar impas sebagai berikut:


 

Jumlah unit = Biaya tetap : Margin kontribusi per unit


 

    Penjualan dalam Unit yang Diperlukan untuk Mencapai Target Laba

        Analisis CPV menyediakan suatu cara untuk menentukan berapa unit yang ahrus dijual untuk menghasilakn target laba tertentu. Target laba operasi dapat dinyatakan sebagai sebuah jumlah dolar atau sebagai suatu persentase dari pendapatan penjualan. Ketika target laba dinyatakan sebagai laba bersih, maka kita harus menambahkan pajak penghasilan untuk memperoleh laba operasi.


 

Titik Impas (BEP) dalam Dolar Penjualan

    Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel didefinisikan sebagai suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per unit yang terjual. Rasio biaya variabel (variable cost ratio) merupakan bagian dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variabel. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba. Bagian dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variabel tertutupi haruslah merupakan komponen margin kontribusi.


 

Target Laba dan Pendapatan Penjualan

    Secara umum, dengan asumsi bahwa biaya tetap tidak berubah, rasio margin kontribusi dapat digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas perubahan pendapatan penjualan. Untuk memperoleh total perubahan dalam laba yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan, kalikan rasio margin kontribusi dengan perubahan dalam penjualan.


 

Membandingkan Kedua Pendekatan

    Untuk pengaturan produk tunggal, pengubahan titik impas dalam unit menjadi impas dalam pendapatan penjualan hanya merupakan masalah pengalian harga jual per unit dengan unit yang terjual. Ada dua alasan mengapa digunakan rumus terpisah untuk pendekatan pendapatan penjualan, yaitu:

  1. Normal pendapatan penjualan memungkinkan kita untuk secara langsung mencari pendapatan jika hal tersebut yang dikehendaki.
  2. Pendekatan pendapatan penjualan jadi lebih mudah untuk digunakan dalam pengaturan multiproduk.