Senin, 27 September 2010

Pemahaman Sistem Pengendalian Intern

Strategi Audit Pendahuluan

    Tujuan auditor dalam perencanaan dan pelaksanan audit adalah untuk menurunkan risiko audit pada tingkat serendah mungkin umtuk mendukung pendapat auditor mengenai apakah laporan keuangan disajikan secara wajar dalam segala aspek yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Karena ada keterkaitan antara bukti materialitas dan komponen audit, maka auditor dapat memilih dua alternative strategi audit, yaitu:

  1. Primarily substantive approach
  2. Lower assessed level of control risk approach

Dalam memilih alternative strategi audit tersebut, auditor mempertimbangkan factor-faktor sebagai berikut:

  1. Planned assessed level of control risk
  2. Luas pemahaman auditor terhadp struktur pengendalian ntern yang dihimpun
  3. Test of control yang dilaksanakan dalam menentukan risiko pengendalian
  4. Planned assessed level of substantive test yang dilaksanakan auditor untuk mengurangi risiko audit pada tingkat serendah mungkin.


     

Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan (Planned assessed level of control risk) yang tinggi, berarti auditor mengangap bahwa struktur pengendalian intern klien adalah sangat efektif dan dapat mengurangi kemungkinan salah saji. Oleh karena itu, auditor harus menguji kebenaran anggapannya tersebut. Auditor lebih banyak melakukan pengujian pengendalian. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan (Planned assessed level of control risk) yang rendah, berarti auditor menganggap bahwa struktur pengendalian intern klien sangt tidak efektif dan tidak akan dapat mencegah terjadinya salah saji. Oleh karena itu, auditor kemudian menguji apakah salah saji yang tak terdeteksi oleh struktur pengendalian intern klien tersebut, dapat dideteksi oleh prosedur audit. Oelh karena itu, auditor melakukan pengujian substantive.

Luas pemahaman auditor terhadap struktur pengendalian internjuga mempengaruhi pemilihan strategi audit. Apabila auditor sangat memahami struktur pengendalian intern klien, maka auditor dapat memilih strategi audit Primarily substantive approach. Apabila auditor kurang memahami struktur pengendalian intern klien, maka auditor dapat memilih strategi audit Lower assessed level of control risk approach.

Strategi audit pendahuluan bukanlah merupakan spesifikasi rinci (detail) prosedu auditing. Strategi audit pendahuluan merupakan suatu judgement pendahuluan mengenai endekatan yang akan dipakai dalam melaksanakan audit.


 

Primarily substantive approach

Pada strategi ini, auditor lebih mengutamakan pengujian substantive daripada pengujian pengendalian. Auditor relative lebih sedikit melakukan prosedur untuk memperoleh pemahaman struktur pengedalian intern klien. Strategi ini lebih banyak dipakai dalam audit yang pertama kali daripada atas klien lama.

Strategi ini digunakan apabila auditor, atas dasar pengalaman maupun tahap perencanaan sebelumnya, menemukan kondisi sebagai ebrikut:

  1. Pengendalian yang terkait dengan suatu asersi, tidak efektif. Oleh karena itu, salah saji tidak akan dpat dicegah atau dideteksi oleh struktur pengendalian intern klien. Auditor kemudian menguji apakah salah saji yang tak terdeteksi oleh struktur pengendalian intern klien tersebut, dapat dideteksi oleh prosedur audit. Dengan demikian, auditor akan lebih banyak melakukan pengujian substantive.
  2. Biaya untuk melaksanakan :
    1. Prosedur tambahan untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern
    2. Test of control untuk mendukung lower assessed level of control risk melebihi biaya untuk melaksanakan test substsntif yang lebih ekstensif.

    Kedua kondisi ini biasanya terkait dengan asersi akun:

    1. Yang dipengaruhi terutama oleh transaksi tidak rutin atau jarang terjadi seperti aktiva tetap, utang obligasi, dan modal saham
    2. Yang sangat memerlukan jurnal penyesuaian seperti akumulasi depresiasi.


 

Lower assessed level of control risk approach

    Auditor lebih mengutamakan pengujian pengendalian daripada pengujian substantive pada strategi ini. Hal ini bukan berarti auditor sama sekali tidak melakukan pengujian substantive. Auditor tetap melakukan pengujian substantive meskipun tidak se-ekstensif pada Primarily substantive approach. Auditor lebih banyak melakukan prosedur
untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien. Strategi ini lebih banyak dipakai dalam audit atas klien lama daripada audit yang pertama kali atas klien baru. Strategi ini digunakan apabila auditor, atas dasar pengalaman maupun tahap perencanaan sebelumnya, menemukan kondisi sebagai berikut:

  1. Pengendalian yang terkait dengan suatu asersi dirancang dengan baik, dan sangat efektif. Struktur pengendalian intern klien sangat efektif tersebut akan dapat mengurangi kemungkinan salah saji. Oleh karena itu, auditor harus menguji apakah struktur pengendalian intern klien benar-benar efektif dalam mendeteksi salah saji. Auditor lebih banyak melakukan pengujian pengendalian.
  2. Biaya untuk melaksanakan:
    1. Prosedur tambahan untuk menghimpun pemahaman struktur pengendalian intern
    2. Test of control untuk mendukung lower assessed level of control risk lebih rendah dari pada biaya untuk melaksanakan test substantive yang lebih ekstensif.
  3. Akun yang diperiksa adalah akun yang dipengaruhi transaksi rutin, dan volumenya tinggi. Contoh akun seperti itu adalah:
    1. Penjualan
    2. Piutang dagang
    3. Persediaan
    4. Biaya upah dan gaji


       

Menghimpun Pemahaman Struktur PengendalianIntern Klien

    Standar pekerjaan lapangan kedua menyatakan bahwa pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Oleh karena itu, auditor harus melaksanakan prosedur audit yang antara lain meliputi prosedur untuk memeperoleh pemahaman struktur pengendalian intern.

    Pemahaman struktur pengendalian intern, digunakan auditor untuk:

  1. Mengidentifikasi tipe salah saji potensial
  2. Mempertimbangkan factor yang mempengaruhi risiko salah saji material.
  3. Merancang pengujian substantive


     

    Struktur pengendalian intern terdiri atas tiga unsure, yaitu:

    1. Lingkungan pengendalian
    2. System akuntansi
    3. prosedur pengendalian


     

    struktur pengendalian intern yang efektif dirancang dengan tujuan pokok sebagai berikut:

    1. menjaga kekayaan dan catatan organisasi
    2. mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi
    3. mendorong efeisiensi
    4. mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen


 

tujuan yang pertama dn kedua dapat dipatuhi dengan pengendalian akuntansi yang baik. Tujuan keriga dan keempat dapat dipatuhi dengan pengendalian administrative yang baik. Disamping keenam tahap perencanaan tersebut, ada beberapa hal yang dapat dilakukan auditor pada tahap perencanaan, yaitu:

  1. menyusun program audit
  2. menyusun jadwal kerja
  3. menentukan staf pelaksana audit


     


 


 


 

Pemahaman Struktur Pengendalian Intern

    Struktur Pengendalian Intern (SPI) adalah suatu hal yang sngat mmegang peranan penting dal auditing. Dalam buku Standar Profesional Akuntan Publik pada SA 319. Par 06 dikemukakan bahwa:

Struktur Pengendalian Intern adalah kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk memberikan keyakinan (assurance) yang memadai bhwa tujuan tertentu satuan usaha akan dicapai.

Dengan demikian, SPI dapat mencakup berbagai kebijakan dan prosedur yang sangat bervariasi dan luas, serta dapat mencakup berbagai tujuan.

Ikatan Akuntan Indonesia denan standar auditingya pada standar pekerjaan lapangan kedua menyatakan bahwa:

Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus dipeoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.


 

Arti Penting Pengendalian Intern

    Sebuah publikasi dai AICPA pada yahun 1947 berjudul Internal Control, menyebutkan factor-faktor berikut sebagai pendorong atas semakin luasnya pengakuan tentang pentingnya pengendalian intern:

  1. Lingkup dan besarnya perusahaan sudah menjadi sedemikian kompleks dan meluas sehingga manajemen idak mungkin lagi memimin perusahaan secara langsung. Untuk mengatasi hal itu, manajemen harus mengandalkan pada sejumlah laporan dan analisis agar dapat mengendalikan perusahaan secara efektif.
  2. Pengecekan dan review yang melekat pada suatu sistem pengendalian intern yang baik, akan dapat melindungi perusahaan dari kelemahan manusiawi dan mengurangi kemungkinan terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan.
  3. Ditinjau dari segi audit, system pengendalian intern yang berlaku pada perusahaan klien akan sangat bermanfaat dalam membatasi lingkup audit. Dengan adanya keteebatasan waktu dan besarnya honorarium audit, pada umumya tidaklah praktis bagi auditor untuk melakuakn audit, tanpa mengandalkan pada system pengendalian intern yang berlaku pada perusahaan klien.

Bagi perusahaan, struktur pengendalian intern dapat digunakan secara efektif untuk mencegah penggelapan maupun penyimpangan. Dengan kata lain, struktur pengendalian intern memberikan kepastian bahwa penggelapan laporan keuangan dapat dicegah atau dideteksi lebih dini.

Struktur pengendalian intern yang efektif dirancang dengan tujuan pokok sebagai berikut:

  1. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi
  2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi
  3. Mendorong efisiensi
  4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen

Untuk kepentingan ausit atas laporan keuangan, struktur pengendalian intern suatu entitas dikelompokkkan atas tiga unsure, yaitu:

  1. Lingkungan pengendalian
  2. System akuntansi

Prosedur pengendalian

0 komentar:

Poskan Komentar